Industri Kecil Menengah Dorong Sektor Pariwisata Bangka Belitung

Pangkalpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) terus memberikan perhatian bagi pertumbuhan industri kecil dan menengah (IKM) guna mendorong pengembangan pariwisata daerah. Saat ini, Babel telah ditetapkan menjadi salah satu dari sepuluh destinasi wisata nasional.

“Kami sedang mendorong IKM, karena kami memerlukan sokongan sektor ini untuk pengembangan sektor pariwisata,” kata Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Rustam Effendi dalam paparan yang disampaikan Sekretaris Daerah Dr Yan Megawandi SH MSi, di depan Komisi VI DPR RI, di Pangkalpinang, Kamis (22/09/2016).

Menurut gubernur, anggaran pengembangan industri kecil menengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di APBD, kata gubernur, terus mengalami peningkatan. Dari Rp 500 juta lebih di tahun 2012 menjadi Rp 2 miliar lebih pada tahun 2016.

Melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pemprov Babel memiliki rencana strategis terhadap program pengembangan industri kecil menengah. Antara lain melalui fasilitasi peningkatan mutu produk, fasilitasi akses perbankan, penyediaan sarana dan prasarana IKM center serta pemberdayaan klinik kemasan. Selain itu dipaparkan pula sejumlah kegiatan unggulan dalam penumbuhan dan pengembangan industri kecil, yang mencakup fasilitasi sertifikasi (hak kekayaan intelektual, halal, uji nutrisi dll), bantuan peralatan, hingga pengembangan dengan pendekatan one village one product (ovop).

Menurutnya, kebijakan dan prospek pengembangan pemberdayaan IKM sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035. Penguatan kapasitas kelembagaan dan pemberian fasilitas merupakan bentuk dari pemberdayaan IKM.

Gubernur menuturkan, pihaknya tengah menerapkan formasi 3-2 bagi pertumbuhan industri di provinsi berpenduduk 1,3 juta jiwa ini.

“Kami pakai istilah 3-2, tiga sektor unggulan untuk mendukung dua sektor lainnya. Sektor unggulan itu adalah pariwisata, kelautan perikanan serta pertanian, untuk menuju sektor industri dan jasa,” terangnya.

Diakui gubernur, dulu ekonomi Babel sangat dipengaruhi komoditas sektor pertambangan timah, terutama dalam memberikan sumbangan terhadap PDRB. Hal itu karena masyarakat setempat lebih dikenal sebagai pekerja tambang, nelayan dan petani (pekebun).

Lebih lanjut gubernur mengatakan, dalam perkembangannya masyarakat Babel menyadari semakin minimnya persediaan mineral timah di sektor tambang menyebabkan di antara mereka beralih kembali menjadi nelayan dan pekebun. Semua elemen menghilangkan ketergantungannya pada sektor pertambangan dan mulai melirik pariwisata. Bahkan Tanjung Kelayang (Belitung) telah ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bidang pariwisata. Berikutnya Sungailiat (Bangka) diusulkan pula untuk menjadi kawasan sejenis.

“Walaupun tidak sesederhana itu, tapi kami di Babel bertekad menjadi tuan rumah yang baik bagi pariwisata nasional,” paparnya. (chandra, ismail)

Sumber: 
HumasPro
Penulis: 
M Chandra Yusuf, Ismail
Fotografer: 
M Chandra Yusuf, Erik PSN
Bidang Informasi: 
Humas