PESANGGRAHAN BTW MUNTOK

PESANGGRAHAN BTW MUNTOK

Pesanggrahan BTW Muntok merupakan Bangunan Cagar Budaya beralamatkan Jalan Imam Bonjol Muntok, Kelurahan Sungai Daeng. Sebutan lain tempat ini adalah Wisma Ranggam. Pada tahun 1927, bangunan Pesanggrahan dibangun ulang oleh perusahan timah milik Belanda yaitu Banka Tin Winningbedrift (BTW). Pesanggrahan BTW Muntok menjadi salah satu tempat bersejarah di Indonesia dikarenakan tempat ini pernah menjadi penempatan para Pemimpin Republik Indonesia yang diasingkan oleh Belanda pada masa Agresi Militer Belanda II. Soekarno, Agus Salim, Mohamad Roem dan Ali Sastroamidjojo pernah menempati bangunan ini mulai tanggal 6 Februari - 5 Juli 1949. Sebelumnya mereka ditempatkan di Pesanggrahan Menumbing bersama Mohamad Hatta, Soerjadi Soerjadarma, Assaat, dan AG. Pringgodigdo.

Pesanggrahan BTW Muntok menjadi tempat musyawarah-musyawarah kedaulatan republik antara para pemimpin bangsa dengan utusan-utusan dunia internasional, antara lain kedatangan delegasi NIT (Negara Indonesia Timur), anggota KTN (Komisi Tiga Negara), BFO (Bijeenkomst Voor Federaal Overleg), dan UNCI (United Nations Commisions For Indonesia). Selain itu, Pesanggrahan BTW Muntok juga merupakan tempat diserah terimanya Surat Kuasa kembalinya Pemerintahan RI ke Yogyakarta dari Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada bulan Juni 1949.

Untuk mengenang tokoh-tokoh kemerdekaan yang diasingkan di Muntok, didirikanlah bangunan tugu pada bagian depan Pesanggrahan. Pembuatan tugu diprakarkasi oleh beberapa tokoh masyarakat Muntok pada tahun 1950. Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1951, tugu diresmikan oleh Wakil Presiden yaitu Drs. Moh. Hatta.***

PESANGGRAHAN BTW MUNTOK

Pesanggrahan BTW Muntok is a heritage building located on the street of Imam Bonjol, the subdistrict of Sungaidaeng. Another name of this place is Wisma Ranggam. In 1927, the building rebuilt by the Dutch tin company, Banka Tin Winningbedrift (BTW). Pesanggrahan BTW Muntok is one of the historical places in Indonesia since it was an exile place of the Indonesian leaders by the Dutch during the Dutch Military Aggression II. Sukarno, Agus Salim, Mohammad Roem, and Sastroamidjojo once occupied this building from 6 February to 5 July 1949. Previously, they were placed at Pesanggrahan Menumbing together Mohamad Hatta, Soerjadi Soerjadarma, Assaat, and AG. Pringgodigdo.

Pesanggrahan BTW Muntok was a place of sovereignty talks of the republic between Indonesia leaders and International delegations, such as delegations of NIT (State of East Indonesia), KTN (Three-Country Commission), BFO (Bijeenkomst Voor Federaal Overleg), and UNCI (United Nations Commissions For Indonesia). Furthermore, Pesanggrahan BTW Muntok is a place where was handed over Letter of Authority the return of the Indonesia Capital City to Yogyakarta from Ir. Sukarno to the Sultan Hamengkubuwono IX in June 1949.

In commemoration of independence figures who were exiled in Muntok, a monument was built at the front of the building. The establishment of the monument was initiated by some community leaders of Muntok in 1950. Then on August 17, 1951, the monument was inaugurated by the Vice President, Mohamad Hatta.***

 

Sumber: 

Disparbudbabar

Tags: 

  • #sejarah #Muntok #Bangkabarat