2 April 1949: Mengenang pernikahan Yusuf Rasidi dan Sholeha, sebuah jejak kenangan orang Mentok dengan para pemimpin RI.

Tercatat dalam buku “Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Bangka Belitung” tulisan Husnial Husin Abdullah, Abang Muhammad Yusuf Rasidi (lebih dikenal dengan Yusuf Rasidi) adalah tokoh republikein pada era tahun 1946-1949. Ia tergabung dalam Angkatan Pemuda Indonesia (API), sebuah badan perjuangan yang menjelma menjadi badan perjuangan rakyat dengan program tunggal yakni bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Yusuf Rasidi juga memperkuat perjuangan politik secara legal dalam Serikat Rakyat Indonesia (SRI) dimana beliau bersama Abdul Samad berasal dari Barisan Pelopor Jakarta.

AA Bakar, dalam buku “Kenangan Manis dari Menumbing” menyatakan bahwa Yusuf Rasidi adalah pemuda yang berasal dari Mentok (Bangka), menempuh sekolah menengahnya di Jakarta dan tamat dari Sekolah Guru HIK (Hollands Indische Kweekschool). Ia pulang ke Bangka pada akhir Tahun 1945 sewaktu Pemerintah Republik Indonesia baru ditegakkan di Bangka. Ia datang bersama dua temannya ke Pangkalpinang sebagai anggota Pemuda Pelopor. Setelah Bangka berhasil dikuasai kembali oleh Belanda, Yusuf Rasidi sering didatangi orang Belanda dan dibujuk untuk bekerjasama, tetapi ia selalu menolak. Sewaktu Bung Karno tiba di Mentok pada Februari 1949, pemuda Yusuf Rasidi inilah yang pertama-tama dipanggil menghadap, kemudian diajak berjalan-jalan di dalam kota Mentok sambil berbincang tentang banyak hal.

Dalam wawancara dengan Yusuf Rasidi oleh Majalah Dewi No. 160 – TH.VIII, hal. 20 – 22, beliau menjelaskan bahwa pada saat itu ia kaget menerima utusan datang kerumahnya menyampaikan bahwa ia dipanggil Bung Karno ke pesanggrahan. Sekitar jam 4 sore, ia dan Bung Karno berjalan-jalan mengelilingi kota Mentok. Ia menjelaskan apa saja yang ditanyakan Bung Karno. Sejak hari itu hubungan Bung Karno dengan Yusuf Rasidi menjadi akrab. Ada kewajiban tidak tertulis, Yusuf Rasidi harus datang ke pesanggrahan selepas magrib, setiap hari. Berkumpul bersama pemuda-pemudi lainnya berbincang dengan Bung Karno. Keakraban ini yang kemudian menjadi takdir sejarah bagi keluarga Yusuf Rasidi. Pada 2 April 1949 dilangsungkan pernikahan antara Yusuf Rasidi dengan Sholeha binti Said Yazan disalah satu gedung di kota Mentok. Sebuah pernikahan yang di promotori oleh Bung Karno. Bung Karno lah yang “mencomblangi” pasangan ini, mengundang tamu, dihadiri oleh 5.000 orang termasuk para tokoh republik yang diasingkan di Bangka. Bung Karno dengan inisiatifnya sendiri mencarikan pinjaman kebutuhan resepsi seperti gelas kepada seorang Tauke (pedagang Cina). Pernikahan yang langka, dengan khotbah nikah yang disampaikan oleh KH Agus Salim. Pesan dan nasehat untuk kedua mempelai hanya sekitar 5 menit. Sedang 1 jam berikutnya untuk berpidato dan membakar semangat rakyat. Bahkan dilanjutkan lagi di pesanggrahan sampai jauh malam. Pada saat pernikahan itu pula, tak ketinggalan dua seniman Mentok Abang M Yasin Chalik dan Samsudin Djufri mempersembahkan lagu “Pengantin Baru” dan “Menumbing yang beriwayat”. Diciptakan dan dibawakan khusus pada acara pernikahan itu dihadapan para tokoh Republik dan tamu yang hadir.

Sehari setelah pernikahan, sebuah foto bersama pengantin di Pesanggrahan Mentok menjadi kisah yang tak terlupakan bagi keluarga Yusuf Rasidi dan Sholeha Said. Dalam Foto tersebut berdiri dari kiri ke kanan: Kemas Zainal Abidin (Bestuurshoofd Mentok), Said Yazan (bapak pengantin wanita), Mr Ali Sastroamodjojo (Menteri Pengajaran RI), A. Moh Rasidi (Bapak pengantin pria), dan Mr Mohamad Roem (ketua delegasi RI). Duduk dari kiri ke kanan: Yang Hafsah (ibu pengantin pria), Presiden Sukarno, kedua mempelai, Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI), Ibu pengantin Wanita, dan istri Bestuurshoofd Mentok.

Setelah pernikahan itu, pada suatu malam Bung Karno menyerahkan sebuah kotak bungkusan berisikan bendera pusaka kepada Yusuf Rasidi. “simpan baik-baik,cup. Jangan sampai ketahuan. Jangan jatuh ke tangan Belanda. Pokoknya, hanya engkau sendirilah yang tahu hal ini”. Setelah penyerahan itu, Bung Karno tidak pernah menyinggung perihal bungkusan bendera itu. Hingga 1 hari sebelum keberangkatan kembali ke Yogyakarta (sekitar Tanggal 5 Juli 1949), beliau menagih benda itu. Esok harinya, pagi-pagi sekali Yusuf Rasidi mengantarnya ke pesanggrahan. Bung Karno belum sempat mandi, masih memakai kaos oblong dan celana pendek serta tidak memakai peci. “buka bungkusan itu,cup. Bentangkan ke bawah”. Yusuf Rasidi membuka bungkusan itu dan membentangkan bendera itu ke bawah. Warnanya sudah hampir kusam. Sambil duduk diranjangnya Bung Karno memandang bendera itu. Ia termangu-mangu tanpa bersuara, lalu menangis tersedu-sedu.

Kedekatan Yusuf Rasidi dengan Bung Karno tetap terjalin walaupun Bung Karno dan pemimpin RI lainnya tidak lagi berada di Bangka. Bahkan ketika putri dari pasangan Yusuf Rasidi dan Sholeha lahir, Bung Karno menyempatkan diri memberikan nama: Nurmahaeni. “saya simpan surat tulisan tangan Bung Karno itu. Untuk kenang-kenangan. Bahwa orang besar itu pernah suatu saat dalam hidup saya pernah akrab dengan saya, seorang rakyat kecil”.

Yusuf Rasidi adalah pemuda Bangka yang berjasa dalam sejarah perjalanan Republik Indonesia. Mengutip Syahrul Hidayat dan Kevin W. Fogg, “Profil Anggota A. M. Joesoef Rasidi,” (Konstituante.Net 1 Januari 2018, diakses pada 11 Maret 2020), Yusuf Rasidi lahir pada tanggal 12 Oktober 1920, berpendidikan HIK (1936-1942), menjadi guru sekolah Ardjuna di Djatinegara pada tahun 1942-1945, menjadi propagandis “pelopor” Kementerian Penerangan RI pada tahun 1945-1946, menjabat sebagai Sekretaris Kaum Buruh Bangka, dilanjutkan Wakil Ketua Kaum Buruh Bangka, dan anggota Dewan Otonom Bangka pada 1946-1949, pada 1950-1956 menjadi anggota dewan Perwakilan Rakyat sementara RI, dan anggota Konstituante RI.

Yusuf Rasidi adalah putra kebanggaan orang Bangka. Layak dikenang sebagai bagian dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI dari Bangka. Bahwa lewat jasa beliau, rakyat Bangka sejatinya adalah republiken, mendukung perjuangan bersama para pemimpin RI dalam menyokong kemerdekaan RI. Seperti tulisan Bung Karno dalam Pesan untuk Rakyat Bangka yang ditulis di Mentok tanggal 21 Februari 1949, mengawali tulisannya dengan kalimat: “Rakyat Bangka nyata bersemangat republikein, nyata berkehendak Bangka masuk dalam daerah Republik “. Mari melanjutkan semangat pendahulu kita untuk memajukan Bangka. Melestarikan semangat republiken untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti yang dicita-citakan para pendiri Bangsa.

Bahan Bacaan:

- Sejarah Perjuaangan Kemerdekaan RI di Bangka Belitung, Husnial Husin Abdullah, PT Karya Unipress Penerbitan, Jakarta, 1983.

- 30 Tahun Indonesia Merdeka, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jilid I, cetakan ketiga Tahun 1980 - Kenangan Manis dari Menumbing (ketika Pemimpin Bangsa dibuang ke Bangka), AA Bakar,  Balai Pustaka, Jakarta, 1993

- Untuk Negeriku-buku III: Menuju Gerbang Kemerdekaan, Drs. Mohammad Hatta, sebuah Otobiografi, Penerbit Buku Kompas, cetakan keenam, 2015.

- Tonggak-tonggak di Perjalananku, Ali Sastroamidjojo, Penerbit PT Kinta, cetakan pertama, 1972.

- Bunga Rampai dari Sejarah, Mohamad Roem, buku I, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, cetakan pertama, 1972.

- Bunga Rampai dari Sejarah, Mohamad Roem, buku II, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, cetakan pertama, 1977.

- Bunga Rampai dari Sejarah, Mohamad Roem, buku III, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, cetakan pertama, 1983.

- Bunga Rampai dari Sejarah, Mohamad Roem, buku IV, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, cetakan pertama, 1988.

- Album Perang Kemerdekaan 1945-1950, cetakan kelima, 1981

- Renville, Ide Anak Agung Gde Agung, 1991

- Visualisasi Diplomasi Indonesia 1945-1995. Deplu RI, 1998  

- Yusuf Rasidi; "didepan bendera itu Bung Karno menangis tersedu-sedu", Wawancara Majalah Dewi no. 160 - Th VIII.

Penulis: 
Bambang Haryo Suseno, SH., M.Ec.Dev
Sumber: 
Disparbud Babar