Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Tio ciu atau Hokkien. “Cap Go” artinya “limabelas” sedangkan “Meh” berarti “malam”. Dengan demikian, Cap Go Meh secara harfiah dapat diartikan sebagai “malam kelimabelas”. Sejarah perayaan Cap Go Meh ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu. Perayaan Cap Go Meh di Cina pada zaman dahulu diselenggarakan secara khusus serta tertutup. Tidak setiap orang bisa mengikuti acara tahunan ini, hanya bagi keluarga istana dan kalangan tertentu saja. Semula, perayaan ini dilakukan untuk menghormati Dewa Thai Yai, dewa tertinggi dalam tradisi Dinasti Han (206 SM-221 M). Dan pada masa Dinasti Tang (618-907 M), perayaan ini justru menjadi semacam pesta rakyat yang kemudian dikenal dengan nama Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Di malam Cap Go Meh, seluruh masyarakat akan tumpah-ruah ke jalan dalam suasana meriah dengan hiasan lampion yang beraneka rupa. Warga dari segala kalangan dan usia dihibur dengan beberapa macam pertunjukan, seperti tarian naga, barongsai, dan lain-lain.

     Banyaknya imigran dari Cina yang kemudian menetap di luar negeri membuat perayaan Imlek dan Cap Go Meh semakin dikenal dunia. Di masing-masing negara yang ditinggali komunitas Cina atau keturunannya, Imlek dan Cap Go Meh dirayakan dengan meriah serta kian variatif.
Namun, kemeriahan Imlek dan Cap Go Meh sulit dinikmati di Indonesia selama rezim Orde Baru. Melalui Instruksi Presiden No. 14 tertanggal 6 Desember 1967, Presiden Soeharto memerintahkan alat-alat negara untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan, dan adat istiadat. Dalam Inpres yang ditandatangani Soeharto, dinyatakan bahwa “Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam lingkungan keluarga.”
Memasuki era reformasi seiring lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998, Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang mulai menjabat tanggal 20 Oktober 1999 mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 yang merugikan warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

     Perayaan Cap Go Meh di Indonesia sendiri sangat bervariasi. Perayaan biasanya dilakukan oleh umat di Kelenteng atau Vihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang di dalamnya diletakkan arca para Dewa. Salah satu daerah yang turut melaksanakan perayaan Cap Go Meh adalah Desa Puput, Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Perayaan Cap Go Meh di Desa Puput Kecamatan Parittiga tidak hanya melibatkan warga keturunan Tionghoa saja, melainkan sudah terajut akulturasi dengan budaya lokal, dengan mengusung tema “Kebudayaan Menjadi Wadah Mempererat Persatuan Kesatuan Bangsa”.

     Cap Go Meh Parittiga dilaksanakan pada bulan Februari 2020 lalu. Sejak pagi hari di lokasi sudah dilakukan berbagai persiapan. Panitia mendirikan panggung pertunjukan dan  merias altar sembahyang.  Altar tersebut merupakan tempat pemujaan yang dilakukan oleh umat Tionghoa untuk berdoa dan bersembahyang kepada Sang Pencipta, sehingga memiliki nilai kesakralan dan spiritual yang sangat dijaga dan dihormati. Altar sembahyang dihias dengan lilin berbagai ukuran kecil, sedang, hingga lilin ukuran besar, buah-buahan beraneka ragam, minuman kaleng, dan kue-kue tradisional. Dan yang menjadi khas adalah kue keranjang sebagai sesaji.

     Pada sore hari, panitia dan umat Tionghoa melakukan kirab dari Kelenteng Bakti Parittiga sambil ramai-ramai menggotong usungan yang di dalamnya diletakkan arca Dewa Hok Tet Chen Sin, menyusuri sepanjang Jalan Puput hingga ke lokasi acara di depan Venus swalayan Parittiga. Seluruh warga dapat menyaksikan tarian Barongsai dan Liong (naga), Barongsai adalah simbol kebahagiaan, kegembiraan, dan kesejahteraan. Sedangkan Liong dianggap sebagai simbol kekuasaan atau kekuatan. Tarian Barongsai dan Liong diiringi dengan musik tanjidor, yang dibawa oleh mobil maupun diarak, dipercaya suara Tanjidor yang keras bisa mengusir energi negatif dan akan membersihkan seluruh lokasi yang dilalui Barongsai. Kirab ini diikuti bukan hanya oleh orang Tionghoa, tapi juga oleh warga dari etnis lain yang beragama Islam dan Kristen, seperti pertunjukan Marching Band yang dibawakan oleh siswa SMP Bakti Parittiga merupakan kolaborasi  siswa Melayu dan Tionghoa.

     Kemudian perayaan ini dilanjutkan pada malam hari, dengan penerangan lampu-lampu lampion yang telah dipasang sejak perayaan Imlek hingga selesainya perayaan Cap Go Meh keesokan harinya. Lampion-lampion menjadi pelengkap utama dalam perayaan Cap Go Meh, dimana lampion adalah pertanda kesejahteraan hidup bagi seluruh anggota keluarga.

     Peranakan Tionghoa yang ada di Parittiga tetap memegang budaya leluhurnya, namun mereka juga berinteraksi dengan lingkungan budaya di daerah tempat tinggalnya, sehingga melahirkan gaya budaya peranakan Tionghoa yang unik. Hal ini dapat dilihat pada perayaan Cap Go Meh Parittiga yang mencerminkan akulturasi budaya etnis Tionghoa dengan budaya masyarakat lokal, dalam hal kuliner misalnya, disediakan  otak-otak dan mpek-mpek, yang merupakan perpaduan budaya kuliner asli Bangka dan kuliner Tionghoa. Begitu juga dengan onde-onde yang merupakan ciri khas Cap Go Meh. Perlahan-lahan, ciri ini mendapat bentuknya dalam konteks budaya Indonesia, onde-onde mulai bergeser dan digantikan dengan makan lontong atau ketupat. Sebuah proses budaya sekaligus menunjukkan bahwa etnis Tionghoa telah mengakar dalam budaya Indonesia.

     Perayaan Cap Go Meh ini menjadi bentuk keberagaman dan kekeluargaan antar golongan masyarakat di Parittiga dan sekitarnya. Acara sembahyang tidak hanya berpusat di Kelenteng Bakti Parittiga, tetapi juga dilakukan di ruang publik dengan lokasi depan Venus Parittiga. Ketika sembahyang diadakan di kelenteng maka nilai religiusnya sangat kuat, namun saat perayaan mulai bergeser ke area pubik, maka nilai religiusnya menjadi semakin berkurang. Sebuah perayaan yang dilangsungkan di tempat publik maka menjadi milik publik. Siapa pun bisa ikut menikmatinya tanpa takut terjebak pada nilai religius yang dihayatinya. Perayaan Cap Go Meh Parittiga menjadi milik masyarakat dan ikut terlibat di dalamnya. Mereka tidak lagi melihat prosesi itu sebagai sebuah ritual keagamaan, tetapi mereka menyambutnya sebagai sebuah perayaan.

     Kegiatan seperti ini sudah sepatutnya dilestarikan. Selain sebagai bentuk toleransi, cap go meh juga dapat menjadi ikon dalam perayaan budaya yang dapat mengangkat pariwisata di bidang kebudayaan di Bangka Barat. Bukti bahwa Bangka Barat memiliki keragaman dan kekayaan budaya yang sangat bernilai tinggi, dan hal ini dapat menjadi nilai jual Bangka Barat untuk meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata, sesuai dengan salah satu misi pemerintah yaitu mengembangkan pariwisata berkelanjutan untuk menopang pertumbuhan ekonomi guna mewujudkan Bangka Barat HEBAT.

Penulis: 
Dian Diana Siregar
Sumber: 
disparbudbabar