BENTENG KUTE SERIBU

     Benteng Kute Seribu yang sebenarnya bernama Benteng Seribu dibangun oleh Abang Pahang Tumenggung Dita Manggala pada masa Sultan Ahmad Najamuddin sekitar tahun 1768 M. Benteng ini dibuat untuk melindungi penduduk Negeri Muntok dari serangan raja Aji dari Kesultanan Riau Johor.

       Sebab nama Benteng Seribu dikarenakan Sultan Ahmad Najamuddin memberi bantuan seribu pikul beras dan seribu ringgit kepada Tumenggung Dita Manggala untuk memperluas dan membangun ulang benteng ini Negeri Muntok. Benteng Seribu ini merupakan perbaikan benteng Muntok dan perluasan benteng kayu yang dibangun oleh Encik Wan Akub sekitar tahun 1743. Atas perintah Sultan Mahmud Badarudin I untuk melindungi orang-orang Melayu dan kaum keluarga Sultan Palembang dari orang-orang Cina parit yang  berperang di dalam Negeri Muntok.

      Kedatangan Raja Aji (Raja Haji Fisabilillah) Pangeran Kelana Sutawijaya pada tahun 1774 menyebabkan penduduk Negeri Muntok berlindung didalam Benteng Seribu yang sudah dipersiapkan untuk menahan serangan raja Aji.

     Tahun 1802 pada masa serangan Panglima Raman dari Riau Lingga yang dibantu orang-orang Bugis yang dipimpin Awang Marupu (Awang Mampu) hanyut ke laut Muntok dan mendarat di Sungai Muntok. Benteng Seribu merupakan tempat berlindung seluruh penduduk Negeri Muntok dari serangan orang-orang Bugis. Pasukan Muntok dipimpin Raden Ja’far dan Demang Minyak. Kepala perang di Muntok bernama Abang Yunus dan Bilal Muhammad menyerbu pasukan Bugis dari dalam Benteng Seribu.

       Awal pendudukan Jepang pada bulan Pebruari 1942, benteng ini juga digunakan sebagai tempat berlindung penduduk Mentok dari serangan pesawat-pesawat tempur Jepang.

     Benteng terletak di Kelurahan Tanjung Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Struktur benteng ini merupakan benteng tanah liat dengan ketinggian antara 2 meter hingga 3 meter yang terletak pada tanah tinggi dan memiliki lebar antara 1,5 meter hingga 2 meter. Benteng menghadap arah Barat dan pada sebagian luar benteng terdapat parit dengan lebar ukuran antara 1 meter sampai 2 meter. Ukuran ini tidak sama lagi karena kondisi benteng yang telah lama hingga banyak mengalami abrasi dan longsor. Kondisi benteng saat ini banyak ditumbuhi pepohonan, bambu dan semak belukar. Disamping itu, benteng juga telah terputus karena adanya pembuatan jalan tembus serta pembuatan jalan setapak. Disekitar benteng juga ditemukan banyak kuburan lama yang tersebar di beberapa tempat.

Penulis: 
JJ | narasumber : M. Ferhad Irfan
Sumber: 
Disparbudbabar