Asal mula penduduk yang ada di wilayah Kecamatan Simpang Teritip berawal dari 2 orang, laki-laki dan perempuan yang berasal dari Sungai Pelangger, atau disebut dengan tanah adat/tanah tua. Laki-laki bergelar Pateh dan perempuan bergelar Metal Bertabun. Mereka mempunyai keturunan 8 pasang, dan terus beranak cucu. Kemudian Pateh memilih keturunan-keturunannya yang sudah tua, yang laki-laki disebut Batin, sedangkan yang perempuan disebut Pelimas. Ada 8 Batin yang mempunyai tugas berbeda-beda, diantaranya Batin Kapong, Batin Tanah Ayek, Batin Gunong, Batin Air, Batin Laut, Batin Hutan, Batin Api, dan Batin Padi. Para Batin bersatu membentuk rimba/hutan sebagai hutan lindung/hutan adat, dan bertugas menjaga kehidupan manusia dari gangguan makhluk gaib ataupun roh halus.

     Leluhur nenek moyang memiliki beberapa warisan budaya, salah satunya adalah ritual adat Ceriak Nerang yang digelar oleh masyarakat Jerieng Kecamatan Simpang Teritip ketika selesai panen padi setiap tahunnya. Ceriak Nerang merupakan ritual adat masyarakat Jerieng di Desa Kundi Bersatu (sebelum pemekaran menjadi 3 desa; Desa Kundi, Desa Bukit terak dan Desa Air Menduyung), yang merupakan simbol ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta, bahwa masyarakat Desa Kundi Bersatu telah diberikan panen, baik itu hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan.

     Ritual Ceriak Nerang terbagi dalam dua pelaksanaan, yaitu ritual Naber Laut di Tanjung Tadah, dan ritual adat di Istana (hutan larangan) Desa Bukit Terak. Ritual Naber laut dilaksanakan pada siang hari, sedangkan ritual adat di Istana (hutan larangan) dilaksanakan pada malam hari. Ritual Naber laut adalah prosesi membersihkan laut dan sekitarnya dari pengaruh jahat roh/penguasa alam gaib di laut, dan bertujuan meminta keselamatan bagi masyarakat sekitar. Juga sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki yang telah di anugerahkan Tuhan Yang Maha Esa, baik hasil laut maupun ladang. Sangat disayangkan, tiga tahun terakhir ini ritual Naber Laut tidak lagi dilaksanakan, namun ritual adat di Istana (hutan larangan) Desa Bukit Terak Kundi Bersatu masih berlangsung hingga saat ini. Dalam prosesi ritual ini menggunakan media miniatur perahu yang akan dilarungkan di Istana, masyarakat setempat percaya jika perahu tersebut akan digunakan para makhluk gaib/roh halus yang datang dari rimba Tanjung Tadah, untuk menuju ke Istana. Bahan utama perahu adalah kulit kayu pohon Miding, yang banyak terdapat di hutan rimba Desa Kundi Bersatu Kecamatan Simpang Teritip. Adapun rimba-rimba Desa Kundi Bersatu yang dilindungi oleh hukum adat hingga saat ini antara lain rimba Tanjung Tadah, Batu Puteh, Kundi, Tenem, Arang, Uret, Temenggung, Pinang, Guwe, Asem, Kelapak, Perepat, Dapit, Wei, Pupot, Jeret, Lemater, Menggol, Pelangger, dan rimba Kemarun Bebuwer.

     Tujuan ritual Ceriak Nerang di istana/hutan larangan hampir sama dengan ritual Naber Laut, namun Ceriak Nerang di hutan larangan lebih diutamakan pad keselamatan masyarakat desa dari gangguan penguasa alam gaib/roh halus. Malam hari sehabis Isya, para ketua adat yaitu pemangku adat laut, pemangku adat darat, pemangku adat gunung, dan pemangku adat tanah tua melakukan prosesi ritual adat di Balai Desa Bukit Terak Kecamatan Simpang Teritip. Pemangku adat darat melakukan ritual mengundang datang para roh halus, yang akan menggunakan perahu. Perahu berisikan sesajian berupa anyaman daun kelapa yang berbentuk tikar, kecempul (bantal), kenceng (guling), yang bermakna perlengkapan tidur para roh halus, koin dan ringgit yang terbuat dari tepung beras, ketan tiga warna, dan telisung (daun sirih bertemu urat yang digulung kerucut, diisi dengan tembakau sigung, kemenyan, pinang, gambir, dan rokok sertung)

     Setelah selesai, pemangku adat darat yaitu Pak Bujel memerintahkan rombongan agar segera membawa perahu ritual. Pada saat akan keluar dari balai desa, seseorang mematahkan dahan mentangok yang ditancapkan di pinggir balai desa. Dipimpin Pak Bujel, arak-arakan berjalan beriringan menggotong perahu ritual, diikuti oleh keluarga dan warga. Sepanjang perjalanan, seluruh rombongan laki-laki perempuan dewasa dan anak kecil saling berseru mengeluarkan suara keras, menyimbolkan suasana riang gembira karena telah berhasil melakukan panen pada tahun ini. Arak-arakan tersebut diiringi oleh alunan musik yaitu dua buah gendang dan satu buah gong, menuju istana sebagai lokasi ritual yang berjarak ± 500 meter dari Balai Desa. Di tikungan jalan ke istana terdapat juga dahan mentangok yang ditancapkan, dan juga dipatahkan sebagai pertanda telah selesainya masa pantangan bagi warga Desa Bukit Terak, yaitu melangsungkan pernikahan dan membunuh hewan besar. Setibanya di lokasi ritual yaitu istana, ditancapkan delapan buah dahan mentangok sebagai penyangga perahu ritual, dan perahu pun diletakkan di atasnya. Terjadi dialog antara Pak Bujel dengan para roh halus agar tidak menganggu kehidupan masyarakat Desa Bukit Terak, dan diminta agar para roh halus dapat hidup secara harmonis dan berdampingan dengan warga sekitar, dan masyarakat setempat juga tidak boleh melanggar hukum adat. Setelah selesai melakukan ritual, rombongan arak-arakan kembali berjalan beriringan menuju Balai Desa, dan dipantangkan bagi semua untuk menoleh ke belakang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena dipercaya para roh halus masih berada di lokasi ritual. Dengan berakhirnya ritual tersebut, dipercaya para roh halus telah kembali ke tempat keramatnya masing-masing yang tersebar di rimba Kundi Bersatu, diantaranya yaitu Tanjung Pelawan, Lelap Tengkorak, Guduk Air Hangat, Guduk Kelares, Kawan Bedenden, Tanjung Barok, Paser Berdarah, Guduk Lisum, Guduk Pales, Kuwang Sebateng, Kubur Nau, Paser Jermun, Umah Tua Penyereng, Kubur Lilet, Kubur Telebuk, Kubur Lubuk Medorin, Guduk Semilang, dan Guduk Kekupak.

     Sesampainya kembali di Balai Desa, sebelum melangkah memasuki Balai Desa, Pak Bujel dicuci terlebih dahulu kakinya, diikuti oleh rombongan yang lain. Kemudian Pak Bujel selaku perantara permohonan, meruwat berbagai permintaan masyarakat yang disampaikan. Ada yang meminta kesembuhan, ada juga yang membuat permohonan untuk kebaikan hidup kedepannya. Puncak dari prosesi ritual Ceriak Nerang, keempat pemangku adat membuat kesepakatan untuk keselamatan masyarakat setempat, menjaga kehidupan manusia dari gangguan makhluk gaib/roh halus, sesuai dengan tugasnya masing-masing yaitu menjaga laut, darat, gunung, dan tanah tua. Ceriak Nerang adalah ritual yang sangat unik, salah satu warisan budaya yang harus terus dilestarikan sebagai wisata budaya di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penulis: 
Dian Diana Siregar
Sumber: 
disparbudbabar