Khataman Al-Qur’an Desa “Santri” Kapit Kec. Parittiga

     Istilah khataman Al-Qur’an, selaras dengan konsep bahasa, maksudnya adalah telah menyelesaikan membaca Al-Qur’an mulai dari surat Al-Fatihah (surat pembuka Al-Quran) sampai surat An-Naas (surat penutup Al-Qur’an). Terkait "khataman Al-Qur’an" sudah diketahui oleh muslimin sejak awal Islam . Nabi Muhammad SAW dan sahabat telah menyampaikan tata cara, waktu dan pahala mengkhatamkan. Dalam sebuah hadis dari Nabi Muhammad SAW diterangkan bahwa barang siapa mengkhatamkan Al-Qur’an, seakan kenabian menempati jiwanya, hanya saja wahyu tidak turun kepadanya. Pahala mengkhatamkan Al-Qur’an juga dijadikan salah satu tolok ukur pahala dan balasan perbuatan-perbuatan yang lain. Sebagai contoh, pahala membaca satu ayat di bulan Ramadan atau tiga kali membaca surah Al-Ikhlas di bulan-bulan lain, sepadan dengan pahala khataman Alquran.

Beberapa keutamaan Khatam Al-Qur’an antara lain :

  • Akan menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat;
  • Mendapatkan pahala akan bersama malaikat di akhirat, bagi yang mahir membacanya;
  • Akan diangkat derajatnya oleh Allah;
  • Mendapatkan sakinah, rahmat, dikelilingi malaikat, dan dipuji Allah di hadapan makhluk-Nya.

     Proses khatam Al-Qur’an ini sendiri dapat dilakukan secara perorangan maupun secara bersama-sama, yang biasanya disebut dengan khataman massal. Sering kita temui beberapa acara khataman massal di beberapa daerah, salah satunya adalah Desa Kapit yang ada di Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat. Desa Kapit disebut juga dengan Desa Santri, karena sejak tahun 2016 pemerintah Desa Kapit beserta masyarakat sekitar sepakat jika acara khataman Al-Qur’an menjadi ikon desa tersebut. Terhitung dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 terdapat 400 an anak-anak yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Darussalam Desa Kapit berdiri pada tahun 1999, dan pada tahun 2000 dimulai lah kegiatan khataman Al-Qur’an. Sebagai Desa Santri, TPA Darussalam Desa Kapit telah melahirkan santri-santri yang berkualitas, tentunya sesuai dengan syariat Islam. Hal ini terbukti pada tahun 2020 ini, santri TPA Darussalam meraih predikat juara umum Seleksi Tilawatil Qur'an (STQ) Tingkat Kecamatan Parittiga. TPA Darussalam Desa Kapit memiliki perbedaan dengan TPA yang lain, jika sistem pendidikan di TPA lain apabila santri telah menyelesaikan Iqro nya, yaitu Iqro 1,2,3, dan 4, dan melaksanakan Munaqasah, maka selesailah masa belajarnya di TPA tersebut. Berbeda dengan TPA Darussalam Desa Kapit, walaupun santri telah menyelesaikan Iqro, diwajibkan untuk meneruskan ke tingkat selanjutnya yaitu Al-Qur’an. Sehingga setelah santri mengkhatamkan Al-Qur’annya, digelarlah acara khataman massal.

     Pelaksanaan khataman Al-Qur’an pada tahun 2020 ini diikuti sebanyak 23 santri, yang merupakan angkatan ke 21. Prosesi khataman dimulai dengan arak-arakan para santri dari Kantor Desa Kapit, ke arah Timur desa, kemudian menuju ke lokasi TPA Darussalam Desa Kapit Kecamatan Parittiga. Para santri dihias dengan sangat baik bak pengantin, santriwan menggunakan jas, sedangkan santriwati menggunakan kebaya ataupun gaun pengantin. Dalam arak-arakan tersebut juga turut mengiringi kembang pahar atau disebut juga dengan kembang khatam, dimana tiap santri wajib membawa 1 kembang pahar. Kembang pahar dari kertas warna warni, terlihat sangat indah dan menarik, dibuat oleh keluarga dari santri yang khatam, kira-kira 1 minggu hingga 1 bulan sebelum pelaksanaan acara. Dalam kembang pahar disematkan telur rebus berwarna merah sebanyak 30 sampai dengan 50 butir telur. Jumlah 30 butir telur menyesuaikan dengan jumlah Juz dalam Al-Qur’an yang dikhatamkan oleh santri, dan jika pun lebih dari 30 butir itu karena keinginan pribadi keluarga yang menyediakan, dengan tujuan telur-telur tersebut akan dibagikan kepada warga lain, sebagai bentuk wujud syukur mereka karena sang anak telah berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an. Selain telur rebus, juga ada ketan kuning sebagai pelengkap. Dalam prosesi khataman, semua santri duduk berdampingan, secara bergantian melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dimulai dengan surat Ad Dhuha hingga surat An-Naas. Dilanjutkan dengan pembacaan do’a sebagai penutup, dimana berdoa setelah khatam Al-Quran sudah menjadi tradisi para pendahulu kita dan sebagian ahli fiqih.

     Prosesi khataman Al-Qur’an, merupakan motivasi bagi para santri untuk mempelajari dan mengamalkan lebih dalam ajaran Islam sehingga membuat kehidupan mereka lebih tertata dan menjadi teladan di masa depan. Diharapkan agar tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bentuk keberagaman budaya di Bumi Sejiran Setason Kabupaten Bangka Barat, dan juga diberikan dorongan untuk para santri menjadi hafiz Al-Qur’an. Karena, anak-anak yang senantiasa membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an lah yang akan menjadi generasi penerus yang berkualitas, memberikan keberkahan di dunia dan di akhirat.

Penulis: 
Dian Diana Siregar
Sumber: 
disparbudbabar