Mengenal Cerita Rakyat Sebagai Upaya Pelestarian Nilai Budaya Tradisi Lisan Di Bangka Barat

Sebagai daerah yang mengusung tema pembangunan berbasis mengembangkan pariwisata berkelanjutan untuk menopang pertumbuhan ekonomi, pemerintah Kabupaten Bangka Barat saat ini terus berusaha maksimal dalam melakukan pelestarian budaya yang ada. Salah satu budaya yang dilestarikan adalah tradisi lisan. Tradisi lisan merupakan bagian dari warisan budaya tak benda yang dimiliki Indonesia. Sebenarnya banyak jumlah tradisi lisan yang ada, namun sangat disayangkan banyak juga tradisi lisan yang belum terdokumentasikan, dan dikhawatirkan dengan keadaan tersebut akan memicu punahnya kekayaan budaya bila tidak diwariskan. Adapun yng dimaksud dengan tradisi lisan adalah tuturan yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat, seperti sejarah lisan, dongeng, rapalan, pantun, dan cerita rakyat.
Di Indonesia tumbuh berbagai cerita rakyat daerah dengan corak dan budaya yang berbeda-beda. Cerita rakyat itu ada yang berupa cerita binatang (fabel), asal-usul suatu tempat (legenda), dan cerita tentang makhluk halus (mite). Cerita rakyat merupakan warisan budaya nasional dan masih mempunyai nilai-nilai yang patut dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, antara lain dalam hubungan dengan pembinaan apresiasi sastra. Tradisi penceritaan secara lisan merupakan salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia. Hal tersebut ditandai adanya ragam cerita rakyat yang memiliki alur cerita yang sama pada beberapa daerah, misalnya penggunaan latar, nama tokoh, serta karakter yang ditonjolkan. Keberadaan sastra lisan perlu untuk didokumentasikan kembali agar cerita tersebut dapat menjadi kekayaan Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya perkembangan teknologi yang sudah tersedia saat ini, diharapkan dapat memberikan wadah untuk mempublikasikan cerita rakyat nusantara ke dunia sehingga siapa pun dapat membaca dan mengkajinya.
Generasi muda saat ini perlu mengetahui kekayaan cerita rakyat Indonesia, sehingga dibutuhkan adanya penciptaan karya sastra yang sesuai dengan kebutuhan anak Indonesia. Hal ini dikarenakan cerita rakyat memang memiliki muatan dan nilai-nilai leluhur masyarakat, nilai moral, dan pendidikan yang sengaja disampaikan kepada masyarakat. Cerita rakyat umumnya banyak memanfaatkan unsur alam sebagai penanda pesan-pesan moral dalam cerita rakyat. Misalnya, kata ‘batu’ merupakan salah satu unsur alam yang cukup legendaris dalam cerita rakyat nusantara, seperti terangkum dalam Pokok Pokok Pikiran Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, terdata beberapa judul cerita rakyat yang tersebar di beberapa daerah di Bangka Barat, yang menggunakan batu sebagai unsur utama, antara lain Batu Belah Batu Betangkup, Batu Balai, Batu Karang Seribu, Batu Akek Nder, dan Batu Bedegum.
Dalam bahasa sehari-hari cerita rakyat lebih dikenal masyarakat sebagai dongeng. Dongeng ini, hidup dan berkembang dalam masyarakat tertentu, tetapi tidak pernah diketahui siapa pengarangnya. Seperti halnya sebagian besar cerita rakyat yang kita miliki yaitu Tanjung Ular, Pulau Semumbung, Air Panas Dendang, Danau Sekar Biru, Pantai Pasir Kuning, Telaga Sukal, Air Limau, Kek Adung dan Triwulan, Putri Bunian Gunung, Ceriak Nerang, Bukit Manik, Sumur Tawar di Basun, Tanjung Said, Sumur Dewa, Gunung Penyabung, Kisah Kacung dan Dendang, Panglima Angin, Tapak Mak Miak, Pak Lotek, Bujang Budu, Sang Belilik, dan Delima Pao. Pada umumnya cerita rakyat ini mengisahkan mengenai suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia dan dewa.
Terkait upaya pelestarian nilai budaya tradisi lisan, yaitu cerita rakyat, pada saat ini masih terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Barat. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam upaya pemajuan kebudayaan tradisi lisan seperti kurangnya referensi, kajian, dan penelitian terhadap cerita rakyat yang ada. Sekarang ini, orang-orang muda yang dapat menghafal cerita rakyat semakin jarang dan dikhawatirkan tradisi ini akan terancam punah kalau tidak segera dilakukan usaha perekaman, oleh karena itu sangat diperlukan adanya pengkajian dan penelitian, penulisan dan rekaman, pelatihan dan pengembangan objek tradisi lisan cerita rakyat di Bangka Barat yang dapat dilakukan oleh peneliti, akademisi, budayawan, lembaga pendidikan dan kebudayaan, dan komunitas seni budaya.
Bersamaan dengan itu, para penuturnya pun semakin berkurang atau langka. Sebagian besar para penutur tradisi lisan sudah banyak yang meninggal dunia dan usia lanjut, serta tidak ada upaya regenerasi. Dan salah satu kendala dalam upaya pewarisan adalah banyaknya keturunan dari para maestro atau pelaku tradisi lisan tidak tertarik untuk meneruskan tradisi tersebut. Pewarisan yang dilakukan oleh para pelaku tradisi tidak bisa berjalan dengan baik karena keturunannya belum tentu mengikuti jejak orangtua dan tertarik mempelajari tradisi lisan, khususnya cerita rakyat, sehingga sangat diharapkan kepada masyarakat dan generasi muda untuk melakukan upaya regenerasi dengan cara melatih dan mengembangkan penutur cerita rakyat dari kalangan pemuda dan pelajar, dalam rangka melestarikan tradisi lisan.
Kurangnya pertunjukan tradisi lisan, baik di tingkat instansi pemerintah, swasta maupun masyarakat juga merupakan salah satu faktor, dimana cara paling baik dalam memperkenalkan tradisi lisan kepada generasi muda adalah melalui pendekatan edukasi, diajarkan di sekolah-sekolah. Selain itu, pemerintah daerah diharapkan lebih proaktif membuat festival dan pementasan budaya tradisi lisan dengan mempersiapkan kegiatan festival dan pertunjukan tradisi lisan, dan pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan secara terorganisir dan berkelanjutan. Melalui cara seperti itu, diharapkan bisa menggugah minat generasi muda. Dengan adanya kegiatan itu diharapkan agar generasi penerus mengetahui bahwa tradisi lisan sudah ada sejak dulu sehingga diharapkan mereka tergerak untuk terus menggali dan melestarikannya. Tentunya kita merasa prihatin akan rendahnya pengetahuan generasi muda terhadap budaya tradisi lisan. Masih banyak anak muda yang menganggap tradisi lisan hanya foklor, dongeng ataupun pantun. Padahal tradisi lisan juga menyangkut sistem pengetahuan lingkungan, teknologi dan kearifan lokal masyarakat.
Adapun capaian yang diharapkan dalam upaya pelestarian budaya tradisi lisan di Bangka Barat yaitu adanya pengadaan dokumentasi secara tulisan dan rekaman dalam bentuk kajian dan penelitian, tersedianya SDM penutur tradisi lisan dari masyarakat dan generasi muda, dan juga adanya pertunjukan tradisi lisan guna membudayakan pertunjukan tradisi lisan di kalangan masyarakat. Namun demikian, usaha seperti ini jelas bukanlah sekadar ikhtiar melestarikan suatu warisan yang dikhawatirkan akan segera hilang, melainkan juga memberikan berbagai dimensi baru dalam pengertian dan apresiasi tentang apa yang dikenal sebagai kebudayaan tradisional yang kita miliki.

Penulis: 
Dian Diana Siregar
Sumber: 
Disparburbabar