Pembantaian di Pulau Bangka- SS VYNER BROOKE

Pembantaian di Pulau Bangka
SS VYNER BROOKE

Salah satu kapal pengungsi yang meninggalkan Singapura pada tanggal 12 Februari 1942 itu membawa ratusan penumpang hendak menuju Batavia. Dalam perjalanannya, kapal itu mengalami akhir yang tragis digempur oleh pesawat pembom Jepang di Selat Bangka.

 

Sekilas tentang Kapal

SS Vyner Brooke adalah kapal uap buatan Skotlandia. Kapal itu dinamai dengan nama Raja Ketiga Sarawak, Sir Charles Vyner Brooke. Kapal itu dirancang oleh arsitek angkatan laut F.G. Ritchie OBE, dari Perusahaan Ritchie & Bisset, Singapura. Perusahaan Ramage & Ferguson dari Leith, daerah pelabuhan Edinburgh, yang membuat kapal, dan menyelesaikannya pada Februari 1928.

SS Vyner Brooke berukuran 1.670 GRT yang dapat membawa sekoci, rakit, dan pelampung untuk 650 orang dan bisa mengangkut setidaknya 200 penumpang.

Kapal itu memiliki kabin-kabin di geladak paling atas yang mampu menampung 44 penumpang kelas satu dan sebuah bar yang luas untuk makan malam. Kabin itu terletak di tengah kapal. Bar itu seluruhnya terbuat dari papan kayu mahoni yang dipelitur dan dilengkapi dengan dua puluh jendela besar jenis Laycock'.

Bahkan, semua furnitur terbuat dari kayu mahoni dan kursi-kursinya dilengkapi dengan jok kulit. Selain itu, di geladak yang teduh terdapat beberapa kabin mewah. Boleh dikatakan bahwa Vyner Brooke dapat menampung 50 penumpang kelas satu. Bagi penumpang yang mencari hiburan dan olahraga, terdapat ruangan geladak untuk permainan lempar dan tenis.

Dek utama memiliki ruang inap untuk semua kru serta ruangan pendingin yang dirancang untuk suhu dua derajat di bawah titik beku. Keperluan cargo ditangani oleh dua buah derek tiga ton di setiap pintu palka dengan berat dua puluh ton derekan. Vyner Brooke diisi dengan lantai dek yang baru, semua dilapisi baja setebal 2,5 in (6,4 cm) dengan enam sekat kedap air.

Kapal itu memiliki enam tungku pembakaran bergelombang dengan area pembakaran gabungan seluas 124 kaki persegi (12 m2) yang memanaskan dua ketel berujung tunggal dengan permukaan pemanasan gabungan seluas 4.390 kaki persegi (408 m2). Ini diumpankan uap pada 180 lbf / in2 ke mesin uap tiga kali lipat bersilinder tiga yang dibangun oleh Ramage dan Ferguson. Mesin berada pada 297 NHP dan digerakkan dengan sekrup kembar.

Dari Kapal Pesiar menjadi Kapal Angkatan Laut

Pada 10 November 1927, Istri Charles Vyner Brooke, Ranee Sylvia, meluncurkannya secara resmi di Leith, Utara Kota Edinburgh, Skotlandia. Kapal itu berlayar dari Leith menuju Singapura pada 17 April 1928.

SS Vyner Brooke memulai pelayanannya sebagai kapal pesiar Kerajaan Sarawak. Kapal uap buatan Skotlandia itu juga berfungsi sebagai kapal dagang yang berlayar antara Singapura dan Kuching di bawah bendera Perusahaan Kapal Uap Sarawak. Kapal itu biasanya membawa sekitar 12 penumpang selain 47 krunya.

Pada awal Perang Pasifik, SS Vyner Brooke dianggap kapal pedagang yang dipersenjatai sebagai kapal kegunaan militer saat diambil alih oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Kapal dicat abu-abu dan dipersenjatai dengan meriam empat inci di depan dan Meriam Lewis di buritan. Sejak saat itu, ia dikenal dengan nama HMS Vyner Brooke.

Para petugas kapal warga Australia dan Inggris yang sebagian besar adalah Pasukan Relawan Angkatan Laut Kerajaan Malaysia diminta tetap berada di HMS Vyner Brooke yang sekarang. Kru kapal bertambah pula dengan awak yang selamat dari HMS Prince of Wales dan HMS Repulse serta beberapa pelaut profesional dari Eropa dan Malaysia.

Baik HMS Prince of Wales dan HMS Repulse telah ditenggelamkan oleh pesawat Jepang pada 10 Desember 1941. Kedua bangkai kapal itu berada di dekat Kuantan, Pahang di Laut Cina Selatan.

Vyner Brooke di bawah komando seorang kapten, Richard E. Borton, dikenal dengan sebutan "Tubby". Berasal dari Yorkshire, lahir tahun 1890, Borton menghabiskan lebih dari satu dekade di wilayah Asia Timur, dia tinggal di sebuah pondok yang nyaman di Orchard Road, Singapura.

Membesarkan keluarga dengan empat anak, dan melayari perdagangannya sambil mempelajari seluk beluk pelayaran di antara ribuan pulau di Negeri Selat, Hindia Belanda, Filipina dan semua negeri kesultanan kecil yang berada di wilayah tersebut.

Meninggalkan Singapore

Pada bulan Desember 1941, Perang Pasifik mulai mendekat Asia Tenggara. Jepang menyerbu Malaysia dan mulai masuk wilayah Singapura. Pada tanggal 8 Februari 1942, Pasukan Jepang mendarat di Pulau Singapura dan evakuasi para warga pun mulai dilakukan karena situasi Singapura dalam keadaan genting.

Pada malam tanggal 12 Februari 1942, dua hari sebelum jatuhnya Singapura ke tangan Jepang, HMS Vyner Brooke merupakan salah satu kapal yang meninggalkan Singapura dengan membawa pengungsi untuk meninggalkan Singapura. Meskipun biasanya kapal itu hanya membawa 12 penumpang, selain 47 krunya, Vyner Brooke berlayar ke selatan dengan 181 penumpang, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Di antara penumpang terdapat 65 perawat Australia terakhir yang berada di Singapura.

Laporan-laporan lain mengatakan jumlah penumpang berbeda-beda yang berada di kapal. Situs Naval-History.net mengatakan terdapat 47 kru dan 181 penumpang, 125 orang menghilang. Hal ini menunjukkan terdapat 228 orang.

Mayor William Alston Tebbutt, seorang staf perwira perwakilan intelijen Australia yang juga ikut menumpang, menyatakan bahwa yang di atas kapal adalah “.. Letnan R.E. Borton ditambah 50 kru, termasuk kru meriam…”. Dia juga memperkirakan jumlah total penumpang sebanyak 200 orang termasuk laki-laki, perempuan, dan anak-anak Indo-Eropa. Hal ini menandakan jumlah keseluruhannya 250 orang.

Penulis Ian W. Shaw, di dalam bukunya “Di Pantai Radji” (hal. 126) menyatakan terdapat 65 Perawat Angkatan Darat Australia, sekitar 150 warga sipil dan personil militer serta 40 kru, dengan total sekitar 255 orang.

Dalam situs Angelpro.com, Vivian Bullwinkel memberikan pernyataan bahwa “…265 laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang ketakutan, ditambah 65 Perawat Angkatan Darat Australia…”, diperkirakan sekitar 330 orang berada di kapal.

Kapten Borton mengatakan dalam laporannya bahwa orang-orang yang berada di kapal meliputi kru; 7 orang perwira dan 45 orang kelasi, Penumpang; berkisar 180 orang sipil dan tentara, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Hal ini menandakan terdapat 227 orang penumpang, tetapi kemungkinan tidak akurat untuk petugas kapal ketika berada di laut.

Catatan dan ingatan yang berbeda terhadap jumlah para penumpang kapal menggambarkan situasi yang kacau di Pelabuhan Singapura pada hari-hari terakhir sebelum penyerahan ke pihak Jepang. Kenyataannya, pada tanggal 12-13 Februari 1942, ratusan perempuan dan anak-anak, bayi, laki-laki sipil dan petugas saling menekan, mendorong, memaksa dan mengancam agar bisa naik ke kapal terakhir yang akan meninggalkan kota sebelum kengerian Pasukan Jepang tiba dari garis depan mereka, saat itu Pasukan Jepang berada di Bukit Timah dan Pasir Panjang.

Sebenarnya jumlah yang diberikan untuk penumpang 'SS Vyner Brooke' antara 227 dan 330 orang, termasuk kru.

Tepat setelah pukul 17:00 pada tanggal 12 Februari 1942, para penumpang naik ke kapal kecil warna abu-abu tua itu. Kapal itu akhirnya berlayar dalam kegelapan. Hari itu menjadi pemandangan yang tidak pernah terlupakan; api besar membakar seluruh bagian depan Singapura dan kepulan asap hitam tebal menyelimuti pulau itu. Dalam kegelapan yang semakin kelam, kapten kapal tanpa sadar mengarahkan kapal ke ladang ranjau dan terpaksa berhenti pada malam itu. Sebagian besar orang menganggap kapal itu akan menuju Batavia dan yang lain mendengar bahwa mereka akan langsung ke Australia.

Jumat tanggal 13 Februari berkabut dan panas. Laut tenang dan kapten tahu bahwa bodoh kalau dia mencoba melakukan pelarian dalam kondisi itu, jadi dia berencana untuk menyembunyikan kapalnya di pelabuhan pulau kecil dan malam itu menyelinap menuju kebebasan. Keesokan harinya sekitar jam 11.00 pagi, beberapa pesawat menuju ke arah kapal. Air laut masih tenang, masih tenteram ketika bom pertama mulai jatuh. Meskipun bom-bom itu meleset dari sasaran, pilot pesawat berhasil menembak sekoci dengan senapan mesin dan meninggalkan lubang-lubang.

Ketika pesawat-pesawat pengebom itu menukik, Borton melakukan serangkaian zig-zag yang tidak menentu terhadap kapal kecil itu dan batangan bom pertama jatuh melebar, ledakan-ledakan itu menggetarkan jendela-jendela ruang kemudi, namun hanya melemparkan pancuran air yang tidak berbahaya. Tetapi ketika pesawat berbalik kembali, mereka menemukan sasaran mereka.

Sekitar 27 bom dijatuhkan dan satu bom jatuh tepat di bawah corong Vyner Brooke yang meledakkan dan menghancurkan kamar mesin, bom lain menghancurkan anjungan, dan bom ketiga menghancurkan dek depan. Kapal yang lumpuh itu perlahan-lahan terhenti, asap hitam keluar dari badan kapal dan api menjilati kamar-kamar kapal.

Para kru turun ke ruangan mesin yang terbakar parah. Kapten memberi perintah untuk meninggalkan kapal. Dapat ditebak, banyak penumpang panik, anak-anak muda bertengkar dengan orang tua untuk melarikan diri dari geladak bawah.

Perawat Australia berusaha memulihkan dan menolong situasi di kapal, sementara kru berjuang untuk membersihkan sekoci. Terlepas dari muatan yang banyak, tiga sekoci diturunkan dengan peralatan lengkap masing-masingnya, dan dua di antaranya mulus berada di sisi kapal. Yang ketiga, terjerat oleh peralatannya sendiri dan terseret ke bawah bersama kapal ketika kapal tenggelam.

Sejak pesawat pembom Jepang pertama kali menyerang, sampai Vyner Brooke menghilang ke bawah gelombang, hanya membutuhkan waktu selama lima belas menit.Kapal yang tenggelam itu meninggalkan dua sekoci yang penuh sesak, beberapa rakit kecil, dan puing-puing di laut dimana lebih dari seratus orang yang selamat dan ketakutan menggelantung, banyak dari mereka terluka atau menderita luka bakar parah.

Kemudian pesawat-pesawat itu kembali lagi, kali ini menyemburkan peluru dengan tembakan senapan mesin. Makin banyak mayat bergabung dengan mereka yang sudah mengambang di air. Dan pembantaian yang menyedihkan ini dilakukan oleh armada invasi Jepang dengan meluncurkan pasukan bersenjata lengkap terhadap sekelompok orang yang tak berdaya.

Jepang mengabaikan tangisan minta tolong mereka yang masih hidup di air. Pasukan Jepang memiliki pekerjaan yang lebih mendesak. Tenggelamnya Vyner Brooke bertepatan dengan invasi Jepang ke Pulau Bangka.

Berdasarkan laporan resmi yang sangat singkat oleh Kapten "SS Vyner Brooke", kronologi perjalanan terakhir kapal adalah;

Kamis 12 Februari 1942:
20:00 - Meninggalkan Singapura.
24:00 - Memasuki Selat Durian dan lanjut hingga siang hari.
 
Jumat 13 Februari 1942:
08:00 - Berlabuh di teluk kecil di pulau lepas Lanka Island.
09:00 - Pesawat musuh memutari kapal, tidak ada serangan.
11:10 - Pesawat musuh memutari kapal, tidak ada serangan.
11:30 - Angkat sauh dan lanjut ke Kanal Lima, dekat dengan pantai Lanka Island.
15:00 - Kapal dikitari oleh tiga pesawat musuh - tidak ada serangan. Pesawat menuju utara.
 
Sabtu 14 Februari 1942:
01:30  -  Berlabuh di Pulau Tujuh.
06:00 - Sebuah pesawat memberi sinyal, tetapi tidak dapat memahami sinyal; kemudian pesawat pembawa senapan mesin itu terbang ke selatan.
09:00   - Pesawat musuh mengitari kapal, tetapi tidak ada serangan.
10:00   - Mengangkat sauh dan lanjut menuju Selat Bangka.
13:00 - Diserang oleh sembilan pesawat musuh. Kapal berkecepatan penuh dan berusaha  terus menerus menghindari bom. Dek bawah terkena bom pesawat.
13:20 - Memerintahkan untuk meninggalkan kapal. Mesin berhenti.Kapten mengarahkan      penumpang ke sisi kanan kapal; Sekoci-sekoci semua rusak parah.
13:40- Kapal miring ke sisi kanan, tersisa dari bawah ke atas selama sekitar dua menit, dan akhirnya tenggelam. Saat serangan,meriam Lewis dan meriam 4 inci sedang beraksi. Posisi kapal 8 derajat ke utara Mercusuar Muntok saat tenggelam.

Kesaksian dari yang Selamat

Wilma Oram, salah satu Perawat Angkatan Darat Australia yang menjadi penumpang,    melaporkan bahwa: "Pesawat-pesawat Jepang datang dan membom kami. Mereka membom kami pada jam 2 siang. Kami turun ke geladak bawah untuk berlindung. Dan di sisi tempat Mona (Mona Wilton, sahabatnya saat mendaftar di Perawat Angkatan Darat Australia) dan aku, tempat kami berbaring menelungkup, dan di sisi itu meledak menyeruak dari kapal.

Pecahan kaca menyembur ke seluruh tubuh kami, kupikir kakiku telah terputus, tetapi ketika aku melihatnya hanya tersayat oleh kaca terbang. Tetapi salah satu dari perawat kami terluka parah. Dia memiliki luka yang sangat parah di bokongnya. Kami membawanya naik tangga ke geladak dan membalut lukanya. Lalu kami harus meninggalkan kapal.

"Keadaan penumpang sangat kacau. Jadi kami menempatkan perawat-perawat yang terluka di samping, menuruni tangga ke sekoci, dan mereka berhasil lolos.”

Lalu Mona dan aku lari ke samping dan turun melalui tangga ke sekoci. Jean Ashton berada di sekoci. Tetapi kapal itu berbalik sangat cepat. Sekoci penuh dengan wanita dan anak-anak. Kapal itu segera tenggelam. Jadi kami harus melompat keluar dari sekoci. Kami tidak bisa menghindar dari kapal. Tidak cukup cepat.

Jadi Mona dan aku melompat keluar. Semua orang akan menyelamatkan diri mereka sendiri pada saat itu. Dan Mona berkata, “Aku tidak bisa berenang”. Dia memakai pelampung, jadi aku berkata, "Berenang gaya anjing saja." Kami berdua sejajar dengan kapal dan berusaha menjauh karena kapal itu akan terbalik ke arah kami. Jadi berenang gaya anjing yang kami lakukan. Tapi kapal itu terbalik ke arah kami, dan aku berkata kepada Mona, “Kapal itu akan roboh. Sepertinya kita akan tenggelam kali ini. Kita tidak akan selamat dari ini. "Aku mengangkat tangan dan menangkap pagar kapal dan melewati pagar. Ketika aku muncul lagi, tidak ada tanda-tanda Mona. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, aku kira kapal roboh menimpanya dan dia tidak bisa menghindarinya. Aku tidak pernah melihatnya lagi.

"Aku masih berusaha untuk menjauh dari kapal karena kapal itu terus terbalik. Dan rakit-rakit dari sisi atas kapal akan berjatuhan. Rakit-rakit itu belum terlempar, sebagaimana mestinya, dan aku melihat rakit-rakit itu mulai berjatuhan. Aku menundukkan kepala. Aku sudah melepas helmku sebelumnya dan rakit menghantam kepalaku. Dan ketika aku naik, rakit lain menabrakku. Aku pikir ada enam rakit sekaligus, satu persatu, rakit-rakit itu menghantam kepala aku dan terus mendorong aku ke bawah."

J. Elizabeth Simons menulis dalam bukunya "While History Passed" bahwa dia sedang berbaring di geladak bawah, kepalanya bersandar di atas helm sebagai bantal, terapit di antara tubuh yang lain dan mencoba membaca buku "Cactus" untuk mengalihkan pikirannya dari kecemasan saat pesawat Jepang menyerang.

"Jelas sekali bagi semua orang secara bersamaan bahwa dek kapal bagian bawah yang tenggelam sangat mirip penjara." Lengannya terkena pecahan peluru yang beterbangan tetapi ia tidak sempat memeriksa lukanya sampai beberapa saat kemudian seseorang membalut lukanya.

"Kepingan baja itu masih berada dalam tanganku sebagai cinderamata dari peristiwa itu," katanya.

Aku meraih tali yang tergantung di luar, melepas sepatuku dan meluncur dengan cepat ke dalam air, begitu cepat sehingga semua kulit dari telapak tanganku terbakar, meskipun dalam kegaduhan aku benar-benar tidak menyadari kerugiannya sampai nanti. "Aku terdorong keluar dari kapal dan dapat melihat beberapa sekoci berhasil diluncurkan, tetapi beberapa sekoci bocor parah sehingga para penumpang mendayungnya dengan panik .... Kami berkumpul secara massal di air ... Awalnya sangat menyenangkan, sebuah kesenangan, sebenarnya, dapat berenang di air dingin. Kami belum mandi selama beberapa lama dan bahkan mencuci ala kadarnya yang tidak mungkin dilakukan di kapal ... Jenny Greer (Perawat Angkatan Darat Australia) mulai bernyanyi "Kami berangkat menemui Sang Penyihir" dan para gadis bergabung dengannya saat mereka berhasil menuju sepotong balok tempat ia berpegang.”

Elizabeth Simons menaiki sebuah rakit dengan dua pelaut Inggris dan seorang operator radio keturunan Indo-Eropa.

Elizabeth Simons melanjutkan; Sesaat Pat Gunther dan Winnie May Davis (Perawat Angkatan Darat Australia) tersapu oleh ombak dan Simons memberi tempat di rakit untuk Gunther dengan menyelinap ke dalam air di tempatnya berada karena Gunther tidak bisa berenang. "Stan (seorang pelaut Inggris), Win dan aku bergiliran beristirahat di rakit dan, di sela istirahat, kami berpegangan erat pada tali di sisi-sisinya.”

Pelaut lainnya terluka bakar sangat parah dan nyaris telanjang di bawah terik matahari sehingga Simons melepas seragamnya dan menutupinya dengan seragam. Win Davis menemukan kotak P3k di kantong seragam miliknya dan memberikan suntikan morfin kepadanya. Mereka bergabung dengan seorang ibu dan anak perempuannya yang juga berpegangan pada rakit.

Pada malam hari, pelaut yang terluka bakar itu terpeleset jatuh dan hilang. Pada malam yang sama, mereka dikelilingi oleh armada kapal penyerbu milik Jepang yang mengabaikan teriakan permintaan tolong mereka.

"Aku ingat saat diangkat jadi aku bisa mengistirahatkan bagian atas tubuhku di atas rakit untuk melepaskan ketegangan tangan dan lenganku. Dengan posisi itu, aku benar-benar tertidur!" Mereka melihat cahaya suar di Pantai Radji tetapi sayangnya arus tidak memungkinkan mereka untuk mendarat di sana.

Ketika siang tiba, mereka betul-betul sadar sedang berada di tengah penyerbuan Sumatera dan kelak, lelucon kamp tahanan perang, dikatakannya "Meskipun kami benar-benar sampai di Sumatra, sayangnya Pasukan Jepang berjumlah sangat besar." Akhirnya mereka berhasil dihentikan pasukan Jepang yang membawa para wanita ke atas kapal dan menyeret para laki-laki di atas rakit dari belakang hingga mereka mencapai pantai. Para Jepang "penyelamat" mereka ternyata manusiawi, melindungi mereka dari kemungkinan dibunuh di pantai di tangan petugas yang kurang bersimpati, dan memberi mereka minum.

Jessie Blanch (Perawat AD Australia), mungkin adalah orang terakhir yang meninggalkan Vyner Brooke saat kapal berguling ke sisi kanannya, dan mulai tenggelam dengan membungkuk terlebih dahulu, mengenang:

"Kapten kapal hebat. Dia berzig-zag. Mereka datang dan membom kami, dan meleset. Kapal itu sangat kecil. Mereka kembali dan konon mereka menjatuhkan 27 bom. Dan akhirnya satu bom menghantam kami." Tepat di atas corong. para lelaki turun di ruang mesin yang terbakar sangat parah. Lalu kami diperintahkan untuk meninggalkan kapal.

Tidak ada kesulitan, tidak ada kekhawatiran, karena Matron Olive Paschke (Perawat AD Australia) telah memberi kami latihan sekoci. Dia adalah wanita yang luar biasa, dan kami hanya tahu di mana harus turun. Kami hanya memiliki 2 atau 3 sekoci. Jadi mereka yang bisa berenang harus berenang dan mereka yang terluka harus masuk ke sekoci.

Mayoritas Perawat Angkatan Darat Australia, 65 dari kami, bisa berenang. Rekreasi utama kami di Singapura adalah berenang, karena di sana sangat panas. Lagi pula, kami semua tahu apa yang harus kami lakukan. Aku punya satu tas perban. Perawat lain memiliki jarum suntik dengan morfin. Beberapa dari kami memiliki barang-barang yang berbeda. Kami menuju ke kapal untuk merawat yang terluka.

Dan tidak ada suara. Kami tahu ke mana kami akan pergi, kami tidak harus berteriak memanggil di antara kami. Aku adalah salah satu orang yang terakhir turun. Kami semua melepas sepatu kecuali satu perawat. Aku ingat melepas sepatuku dan meletakkannya dengan rapi di geladak. Aku menengadah dan ada dua temanku di laut.

Pada saat itu kapal telah berada dalam posisi yang salah. Aku naik ke atas dan mereka berteriak, "Lompat, Blanchie, lompat!" Dan, aku melompat dan aku pikir aku tidak pernah muncul lagi, saat itu terasa sangat lama.

Pokoknya aku bergabung dengan kedua gadis itu dan kami melihat kapal itu berguling beberapa menit kemudian.

Cukup banyak puing yang mengambang. Dan datanglah sepotong rel kapal. Potongannya cukup besar. Dan kami mengenakan rompi pelampung. Dan jika kau tidak berenang sedikit saja, kamu akan terbalik olehnya. Mengerikan. Dan bagi mereka yang tidak bisa berenang, tentu saja mereka tenggelam.

Pada saat itu kami bertiga, dan kemudian kami menjemput dua perawat lain, dan dengan meletakkan tangan kami di papan kami bisa tetap bersama. Berenang dengan satu tangan dan menendang. Kami jadi berlima. Jenny Greer, Beryl Woodbridge, Flo Trotter, Joyce Tweddell dan aku. Dan ketika kami masuk ke dalam arus, kami tersapu dengan cepat dan Jenny mulai bernyanyi "Kami berangkat menemui Sang Penyihir." Dan kami ikut bergabung.

Sangat mengejutkan, Kapten berada dalam arus yang berbeda dengan kami, yang kelak akan ditawan di Sumatra dan pulang ke rumah. Dan dia berkata, "Ada beberapa Perawat Australia di kapalku, tetapi aku tidak tahu berapa banyak dan apa yang terjadi pada mereka, tetapi mereka menyanyikan lagu “Kita berangkat menemui Sang Penyihir." Orang-orang kami (di rumah) tidak mempercayainya. Bagaimanapun, itu sungguh terjadi.

Saat itu jam 2 lewat 25 menit sesuai dengan jam tanganku. Lalu semua puing, dan orang-orang, dan rakit-rakit menghilang. Hanya satu sekoci yang mengambang, dan ada orang terluka di dalamnya. Jenny yang memiliki arloji tahan air dan arlojinya terus berjalan: jam 6, jam 7.

Malam telah lewat, kami sangat kedinginan dan salah satu perempuan mengalami kejang dan tidak bisa berenang, dan dia tidak ingin bertahan dan kami menyemangatinya agar  kuat. Aku sangat kuat, dan Tweedie adalah orang lain yang merupakan perenang yang sangat kuat. Kami berada di bagian depan papan. Kami terus menyemangati perempuan itu, agar lebih tegar, "Kau akan baik-baik saja, kita akan segera ke darat, atau seseorang akan menjemput kita.”

Bagaimanapun malam tiba. Dini hari kami pikir kami melihat sebuah tebing besar. Tapi itu bukan tebing, itu adalah kapal perang besar. Kami menyadari bahwa itu adalah Jepang, dan mereka memandang ke laut, melihat-lihat dan hanya tertawa. Lagi pula kami tidak peduli, kami tidak ingin mereka yang menjemput kami. Sewaktu dini hari, kami bisa melihat sebuah mercusuar. Mereka menyalakan api, dan kami bisa melihat dari sinar api itu beberapa perawat kami. Berseragam. Cukup banyak yang mendarat di sana, termasuk beberapa di antaranya yang terluka, mereka yang berada di sekoci. Di sanalah sekoci itu mendarat. Tapi kami tidak bisa ke mercusuar itu. Kami mencoba menarik papan tetapi kami tidak berhasil.

Akhirnya, sekitar jam setengah enam pagi, kami terbawa arus yang membawa kami langsung ke pantai. Dan kami tidak bisa berdiri. Dan kulit kami semua berkerut. Kami ditutupi dengan minyak, kami terlihat mengerikan. Kami hanya berbaring di pantai di bawah sinar matahari sampai kami meleleh.

Kemudian seorang penduduk asli datang dan memberi tahu kami bahwa Jepang telah mengambil alih pulau itu, dan tidak ada gunanya bersembunyi. Tidak ada makanan, tidak ada orang yang membantu kami, katanya. Aku berkata, "Tunjukkan pada kami di mana Markas Besar Jepang berada." Dia kemudian meninggalkan kami karena dia tidak ingin terlihat oleh orang Jepang.

Lalu kami berangkat, kemudian ketika kami mendekati markas, seorang pemuda Jepang menemui kami, kami berlima. Kami pikir kami akan ditembak. Dia menyuruh kami pergi ke sebuah rumah. Ada lima atau enam langkah, dan kami berdiri di tangga dan dia berteriak pada kami agar berhenti. Kami berhenti. Kami membelakanginya, dan kami berpikir "Inilah saatnya".

Lalu dia mendengus, dan kami berbalik dan dia memberi isyarat kepada kami. Kami mengikutinya dan kami bertemu dengan penduduk asli dengan beberapa pisang. Dia mengambil pisang dari penduduk asli dan memberikannya kepada kami.

Aku pikir dia memiliki hati yang lembut dan tidak menembak kami. Atau mungkin dia tidak punya cukup peluru. Dia membawa kami ke markas. Dan apakah mereka senang melihat kami, karena kancing-kancing baju kami memiliki tanda Australia.

Mereka berkata, "Suster Australia, perawat Australia!" Dan mereka senang seperti halnya memukul. Dan tentu saja tentara kami tidak akan memperlakukan para perawat sebagai tahanan.

Segera para Jepang itu meringkus kami sebagai tahanan, mereka mengambil arloji Jenny yang masih berfungsi. Jam milikku tidak bagus lagi. Namun mereka merebut semuanya dan mengambilnya dari kami. Lalu kami sadar bahwa mereka tidak meninggalkan apa pun untuk kami sebagai gantinya.

Vivian Bullwinkel mengingat saat kapal mulai karam dan segera para penumpang ketakutan mendengar suara air yang tumpah. Vyner Brooke akan tenggelam dan kapten memberi perintah untuk meninggalkan kapal.

Kapal itu akan tenggelam dalam waktu sekitar 15 menit. Beberapa perawat membantu memindahkan orang yang terluka ke bagian atas, sementara yang lain menolong semua orang naik ke geladak. Orang-orang sipil diminta untuk pergi ke samping terlebih dahulu. Mereka tidak lebih cepat di dalam air, daripada pilot musuh yang kembali dan mulai memberondong hamparan manusia.

Saat itu terjadi kekacauan total, satu sekoci yang menampung orangtua dan anak-anak terbalik dan dua sekoci yang kosong, dengan lubang-lubang peluru, jatuh ke laut.

Vivian membantu merawat para korban dan akhirnya mengungsi dari kapal dengan menuruni tangga tali. Dia bisa mencapai ke darat dengan menggantung di sisi salah satu kapal sekoci.

Meskipun sekoci penuh sesak, mereka bisa mencapai Pulau Bangka pada sore hari. Rombongan yang selamat pertama, termasuk Matron Drummond (salah satu perawat senior), telah menyalakan api di pantai dan api inilah yang bertindak sebagai suar bagi yang lainnya yang masih di dalam air.

Selama delapan belas jam berikutnya, sekelompok korban yang kelelahan mendarat di pantai. Kelompok terbesar berkumpul di Pantai Radji, di mana pada pagi hari sekitar enam puluh pria, wanita, dan anak-anak, dan dua puluh dua perawat Australia berkumpul bersama.

Malam itu, sekoci berisi sekitar dua puluh tentara Inggris, banyak dari mereka terluka, mendarat di pantai, membengkak kelompok itu menjadi lebih dari seratus. Keesokan paginya, diputuskan bahwa para wanita dan anak-anak harus menemukan Jepang dan melemparkan diri mereka pada belas kasihan mereka. Hanya menyisakan laki-laki dan perawat di pantai. ketika tentara Jepang tiba beberapa jam kemudian, mereka yang tersisa di pantai, telah dibantai secara tragis, yang kemudian dikenal sebagai tragedi Pembantaian di Pulau Bangka.

Letnan A.J. Mann menceritakan dalam dokumen riwayat hidupnya yang ditulis 10 tahun setelah peristiwa itu, saat ia bertugas di Kapal Vyner Brooke ketika tenggelam.

Hingga tiba pengungsian dari Singapura, Vyner Brooke sebelumnya adalah kapal dagang yang berlayar tenang antara Singapura dan Kuching. Ketika itu diminta sebagai kapal pengungsian, kapal yang berwarna abu-abu dan dilengkapi dengan senjata. Kapal itu membutuhkan seseorang yang tahu cara kerjanya, seseorang yang akrab dengan kasus-kasus angkatan laut pada umumnya, dan Letnan Mann ditugaskan di atas kapal itu.

Pada saat pengungsian, perintah Kapten Borton untuk berlayar menuju Batavia, berlayar di malam hari dan bersembunyi di siang hari. Hal ini sangat jelas dengan bersembunyi, mereka menjadi sasaran empuk bagi pesawat pembom Jepang.

Pada tanggal 14 Februari, enam pesawat bermesin kembar milik Jepang yang terbagi menjadi 3 kelompok mulai menyerang. Vyner Brooke dapat menghindar 5 serangan pertama, tetapi serangan keenam menghantam pintu palka nomor dua dan meledak.

Jepang menyerang lagi. Kali ini mereka meleset tapi mengenai tiga sekoci di sisi kiri kapal. Tiga sekoci sisi kanan yang masih bagus diluncurkan dan diisi dengan orang-orang. Tiga perahu bocor lainnya juga terdapat orang-orang yang menempel padanya.

Letnan Mann melihat Kapten Borton meluncur turun ke sisi kapal, pada saat itu para penumpang sangat kacau, dan sama hal seperti yang terjadi pada dirinya. Mereka berkumpul di air dikelilingi oleh sekitar 100 orang, dengan jaket pelampung dan menempel di rongsokan kapal, dan bersama-sama mereka menyaksikan Vyner Brooke tenggelam.

Letnan Mann yakin tiga sekoci yang selamat dapat didayung menuju darat,  kurang lebih 12 km jauhnya, kemudian kembali menjemput lebih banyak orang yang selamat, sehingga dia cukup tenang.

Hari berlalu. Letnan Mann mengapung di  sebuah tiang dan kemudian pada penutup palka. Dia menggambarkan beberapa orang yang dia temui di air, pertama sebuah rakit dengan beberapa perawat menempel padanya, dan seorang wanita duduk di atasnya menggendong bayi.

Kemudian ia melintas menuju rakit dan menumpang ke seorang wanita Siam dan dua anak Inggris, seorang gadis berusia 11 tahun dan saudara lelakinya berusia 9 tahun, yang ia ingat mungkin bernama Betty dan David. Ia bergabung dengan mereka di rakit dan terus menghanyut sepanjang perairan dengan arus yang kuat, berusaha mencari tempat untuk mendarat.

Ketika hari semakin terang, dia bisa melihat banyak kapal, baik kapal angkatan laut dan kapal dagang, mendarat di sudut Timur Laut Pulau Bangka, dan Kapal Perusak Jepang melewati mereka melaju ke utara, mengabaikan permintaan bantuan mereka. Mereka melakukan beberapa upaya untuk memasuki aliran yang mengalir melalui hutan bakau, tetapi hutannya terlalu tebal.

Pada salah satu upaya, mereka terkejut menemukan seorang Sersan Staf dari RASC bernama Knight, yang selamat dari kapal lain. Dia terdampar di pohon. Dia juga bergabung ke rakit. Setelah menghabiskan malam di rawa-rawa, mereka turun ke pantai dan melihat sekoci di bawah layar. Sekoci itu ditumpangi oleh 4 prajurit berpangkat Angkatan Laut Australia dari HMS Siang Wo.

Kapal mereka telah mendarat di Pulau Bangka dan 4 orang ini memilih pergi menuju Batavia, yang berjarak 480 km jauhnya. Mereka sepakat membawa wanita dan anak-anak, tetapi enggan membawa naik 3 laki-laki meskipun mereka memiliki sekoci berukuran 7,5 m untuk mereka sendiri.

Akhirnya para prajurit berpangkat itu sepakat menarik rakit milik ketiga laki-laki yang selamat itu sampai mereka tiba di tempat yang cocok untuk mendarat di mana Letnan Mann dan rekan-rekannya dapat mencari jalan mereka sendiri menuju Palembang, yang berjarak 112 km jauhnya.

Letnan Mann dan rekan-rekannya menghabiskan waktu mereka mendayung di sepanjang pesisir dan berjuang untuk bertahan hidup sampai mereka bertemu dengan sekelompok tentara Belanda pada 26 Februari. Kali ini, mereka pindah ke kapal yang lebih besar dan menuju ke Selatan. Mereka mendarat di Jawa pada tanggal 27 Februari. Letnan Mann dibawa ke Cilacap di pantai selatan dan, pada tanggal 2 Maret, ia berlayar menuju Fremantle dengan menumpang Kapal SS Verspyck.

Hingga tahun 1948, ketika dia tahu bahwa Kapten Borton sekarang tinggal di Bradford, Inggris, Letnan Mann yakin dia merupakan satu-satunya perwira yang selamat dari tenggelamnya Vyner Brooke. Dia meninggal pada pertengahan 1950-an, tanpa meninggalkan anak.

Kapten R.E. Borton, O.B.E. sendiri, saat kapal tenggelam, ia menjadi tahanan oleh Jepang di Sumatra sesaat setelah peneggelaman dan dipindahkan ke tahanan Changi selama Perang. Ketika dipenjara, dia tidak mengungkapkan kepada para penawannya bahwa dia adalah Kapten Vyner Brooke.

Saat pengungsian di Singapura, keluarganya dievakuasi ke Inggris pada bulan Februari 1942, beruntung mereka tidak menumpang di Vyner Brooke, kapal ayah mereka.

Anak perempuan tuanya, Phyllis Wilson menceritakan bahwa: "Saya baru berusia 8 tahun pada tahun 1942, jadi tidak ingat banyak, hanya yang teringat kengerian yang dirasakan ibu saya dengan 4 anak kecil dan bom-bom yang jatuh ke laut saat kami sedang menuju 'kapal besar'.

Mereka menghabiskan masa perang dengan tinggal di Leeds sampai akhirnya Kapten Borton dibebaskan setelah perang usai. Dia meninggal dunia pada tahun 1965.

Mengenang Vyner Brooke

Untuk memperingati ratusan orang mati yang menumpang di Vyner Brooke di perairan sekitar Pulau Bangka dan di daratnya, sebuah monumen peringatan dibangun oleh Pemerintah Australia di depan Mercusuar Tanjung Kalian Muntok, dekat lokasi pembantaian para Perawat AD Australia oleh tentara Jepang di Pantai Radji setelah terdampar dari Vyner Brooke.

Suster Vivian Bullwinkel adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian dan menjadi tahanan perang. Kemudian, pada 2 Maret 1993, Suster Vivian Bullwinkel dan rekan-rekan sesama tawanan perang menghadiri peringatan di pulau itu.

Sebuah plakat perunggu pada tugu granit juga didirikan di tepi danau Cagar Alam Point Walter,  Australia. Pada 2 Mei 1999, Suster Vivian Bullwinkel dan korban lainnya yang selamat, Wilma Oram, meresmikan tugu itu.

Februari 2018, sebuah tugu juga dibangun di lokasi dekat Pantai Radji. Di plakat yang terpasang juga tertera nama-nama korban dan para Perawat Angkatan Darat Australia penumpang Vyner Brooke. Di bagian bawah plakat, terdapat gambar SS Vyner Brooke sebelum diambil alih oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang mengubahnya menjadi kapal yang bersenjata.

Untuk mengenalkan kisah yang menghancurkan ini sekaligus juga mengilhami dalam perjuangan untuk hidup, perusahaan pembuat koin di Australia, Royal Australian Mint, mengeluarkan sebuah koin koleksi khusus peringatan senilai 20 sen.

Kepala Eksekutif Royal Australian Mint, Ross MacDiarmid, mengatakan desain koin menggambarkan perjalanan SS Vyner Brooke yang mengerikan sementara kemasannya menampilkan beberapa gambar termasuk foto kelompok perawat perang Australia dan seorang perawat perang Australia yang paling terhormat, mendiang Letnan Kolonel Vivian Statham, yang dikenal dengan nama sewaktu lajangnya, Vivian Bullwinkel.

Selain Vyner Brooke, dikatakan bahwa terdapat 46 kapal lain yang mengangkut para pengungsi meninggalkan Singapura antara 12 hingga 17 Februari 1942, dan di antara kapal-kapal ini, hampir setengahnya dibom dan tenggelam ketika mereka melewati Selat Bangka dari Singapura menuju Jawa atau Australia. Dengan demikian ribuan pria, wanita, dan anak-anak terbunuh sebelum ada yang bisa mencapai tanah.

Sebagian besar kapal lainnya ditangkap dan sebagian lainnya tidak ada kabarnya lagi. Beberapa tawanan ada yang ditembak mati dan sebagian besar lainnya berakhir di kamp-kamp tahanan Singapura, Muntok, Palembang, dan bagian Sumatera lainnya.

Penyebab tragedi kemanusiaan itu dikarenakan jumlah Angkatan Laut Jepang yang besar berlabuh di depan Selat Bangka tepat di depan kapal-kapal yang membawa para pengungsi.***

Tulisan ini terjemahan dari kumpulan tulisan yang disusun dari berbagai buku dan akun daring tentang SS Vyner Brooke.
Penyusun dan penerjemah: Muhammad Erfan, S.S.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat.
 
Sumber-sumber
Buku:
Armstrong, Ralph E. H.. Short Cruise on the Vyner Brooke. George Mann Books, 2003.
Dodkin, Marilyn. Goodnight Bobbie: One Family's War. UNSW Press, 2006.
Lynaugh, Joan E. Nursing History Review. Volume 7: Official Publication of the American Association for the History of Nursing. Springer Publishing Company, 1999.
Martin, Roy V. Ebb and Flow: Evacuations and Landings by Merchant Ships in World War Two. Aerial Edition. Independently Published, 2020.
Shaw, Ian W. On Radji Beach. Macmillan, Pan Macmillan Australia. Sydney, 2010
 
Akun-akun Daring:
https://awm.gov.au (The Australian War Memorial)
https://dva.gov.au (The Australian Government Department of Veteran's Affairs)
 
Laporan dan Arsip:
“HMS Vyner Brooke” Sunk by Japanese bombers in the Banka Straits, Sumatra,On 14 February 1942. Version 3.2.0; 4 June 2017.
"The Sinking of the Vyner Brooke". The Australian War Memorial. Retrieved 31 December 2017.
“Spotlight on Singapore” By Denis Russell-Roberts.

 

Artikel Asli
 
Massacre of Bangka Island
SS VYNER BROOKE

One of the evacuees' ships left Singapore on February 12, 1942, was carrying hundreds of passengers heading to Batavia. On the way, the ship had a tragic end which was attacked by Japanese bombers in the Bangka Strait.

About the Ship

SS Vyner Brooke was a Scottish-built steamship. She was named after the 3rd Rajah of Sarawak, Sir Charles Vyner Brooke. The ship designed by naval architect F.G Ritchie OBE, of Ritchie & Bisset, Singapore. Ramage & Ferguson of Leith, Edinburgh's harbor area, built the ship and completing her in February 1928.

SS Vyner Brooke was 1,670 GRT that could carry lifeboats, rafts, and lifebelts for 650 people and could carry at least 200 deck passengers.

She had cabins on the upper deck that could accommodate 44 first class passengers and a large saloon for dining. These cabins were situated amidships. The saloon was 'panelled to the full height with polished mahogany and is provided with twenty large windows of Laycock type'.

In fact, all furniture is of mahogany and the chairs came with leather seats. Beside that, on the shade deck were situated the deluxe cabins.  It is safe to say that the Vyner Brooke could accommodate 50 first class passengers. For passengers who were looking for entertainment and exercise, there was a room for deck quoits and deck tennis.

The main deck had accommodation for crews as well as a cold store room designed for temperature two degrees below freezing. Cargo was handled by two three ton cranes at each hatch with a heavy of twenty ton derrick. Vyner Brooke was flush decked with 'tween decks, all steel sheathed in 2.5 in (6.4 cm) with six watertight bulkheads.

She had six corrugated furnaces with a combined grate area of 124 square feet (12 m2) that heated two single-ended boilers with a combined heating surface of 4,390 square feet (408 m2). These fed steam at 180 lbf/in2 to a three-cylinder triple expansion steam engine built by Ramage and Ferguson. The engine was rated at 297 NHP and drove twin screws.

From Royal Yacth to Naval Ship

On Nov 10, 1927, the wife of Charles Vyner Brooke, Ranee Sylvia, officially launched it at Leith, north of the city of Edinburgh, Scotland. The ship sailed from Leith for Singapore on 17 April 1928.

SS Vyner Brooke started her service as the royal yacht of Sarawak. The Scottish-built steamship also worked as a merchant ship used between Singapore and Kuching under the flag of the Sarawak Steamship Company. She usually carried about 12 passengers in addition to her 47 crew.

At the beginning of the war in the Pacific, SS Vyner Brooke was considered an armed trader as militarily-useful vessel when it had requisitioned by the Britain's Royal Navy. She painted gray and armed with a four-inch deck gun forward and two Lewis guns aft. Since then known as HMS Vyner Brooke.

The ship's Australian and British officers were mostly Malay Royal Navy Volunteer Reserve had been asked to remain aboard the now HMS Vyner Brooke. Her crew was also augmented some survivors of HMS Prince of Wales and HMS Repulse and European and Malay professional sailors.

Both HMS Prince of Wales and HMS Repulse were sunk by Japanese aircraft on Dec 10, 1941. The wrecks now rest near Kuantan, Pahang in the South China Sea.

Vyner Brooke was under the command of a captain, Richard E. Borton, known as “Tubby”. A Yorkshireman, born 1890, Borton had spent more than a decade in the Far East, living in a comfortable cottage in Orchard Road, Singapore.

He was raising a family of four children, and plying his trade while learning the ins and outs of sailing among the thousands of islands that comprised the Straits Settlements, The Netherlands East Indies, The Philippines and all the little sultanates that made up the region.

Left Singapore

In 8 December 1941, Pacific War approached Southeast Asia. Japanese troops invaded Malaysia and began their advance to Singapore. On 8 February 1942, Japanese forces landed on Singapore Island and evacuating the citizen began since Singapore in dangerous situation.

On the evening of 12 February 1942, two days before the fall of Singapore to Japan, Vyner Brooke was one the ships carrying evacuees to leave Singapore. Although she usually only carried 12 passengers, in addition to her 47 crew, Vyner Brooke sailed south with 181 passengers embarked, most of them women and children. Among the passengers were the last 65 Australian nurses in Singapore.

Others reports said various number of passengers on board. The website Naval-History.net says of 47 crew and 181 passengers, 125 were missing. This indicates 228 people.

Major William Alston Tebbutt, a staff officer of intelligence Australian representative who on boarded, stated those on board were “…  Lt. R. E. Borton plus 50 crews, including gun crews …” He also estimated a total of 200 passengers including a number of Eurasian men, women and children. This indicates a complement of 250 people.

Author Ian W. Shaw in his book” On Radji Beach “(p.126) states there were 65 Australian Army nurses, about 150 civilian and military personnel and a crew of 40, giving a total of around 255 persons.

On Angelpro.com website, Vivian Bullwinkel is quoted as stating there were “… 265 frightened men, women and children, plus the 65 AANS nurses …” suggesting about 330 people on board.

Captain Borton states in his report that the people on board comprised; Crew: 7 Officers and 45 ratings, Passengers: approx. 180 civilians and army, mainly women and children. Indicating 227 people on board, but also that perhaps there had not been an accurate headcount whilst at sea.

The significant variance in the records and memories of number of passengers on board reflects the chaos on the Singapore docks on those last few days before the surrender to the Japanese. The reality was that by the 12-13 February 1942 thousands of women and children, babies, civilian men and servicemen were pushing, shoving, coercing and threatening their way onto any of the last ships leaving the city before the terror of the Japanese Army arrived from their frontline, which was by then on Bukit Timah Road and in Pasir Panjang.

Numbers given for those actually on board the 'SS Vyner Brooke' range between 227 and 330 people, including the crew.

Just after 5:00 p.m. on 12 February 1942, passengers boarded the small dark-gray vessel. The ship finally set sail just as darkness set in. It was to be a never-to-be-forgotten scene: huge fires were burning along the whole front of Singapore and a heavy pall of black smoke hung over the island. In the gathering darkness, the captain unknowingly steered the vessel into a mine field and was forced to stop for the night. Most thought the ship was headed toward Batavia, and others heard they were going straight to Australia.

Friday the 13th of February was hazy and hot. The sea was calm and the captain knew he would be foolish to attempt a breakout in these conditions, so he planned to hide his vessel in a small island harbor and that night slip out to freedom. The next day around 11:00 a.m., some aircraft were heading toward the ship. The water was still calm, still serene when the first bombs began to fall. Although the missiles missed the target, pilots score machine-gun on the starboard lifeboats and left them riddled with holes.

The alarm was sounded on the ship's whistle, and all passengers ushered below decks for protection. As the bombers dived, Borton made into a series of erratic zig-zag to the little ship and the first stick of bombs fell wide, the explosions rattling the wheelhouse windows, but throwing up only harmless fountains of water. But when the planes came back again they found their mark.

Around 27 bombs dropped and one bomb dropped straight down the Vyner Brooke's funnel to explode with devastating results in her engine-room, another demolished the bridge, and a third blasted the fore deck. The crippled ship drifted slowly to a halt, black smoke pouring from her bowels and flames licking at her accommodation.

The crew down in the engine room were very badly burned. Captain gave orders to abandon the ship. Predictably, many of the passengers panicked, young children fighting with the elderly to escape from below decks.

The Australian nurses tried to restore and help the situation on the ship, while the crew fought to clear away the lifeboats. Despite the heavy list, three boats were lowered with a full complement in each, and two of these cleared the ship's side. The third became entangled with its own gear and was dragged down with the ship when she sank.

From the time the Japanese bombers first attacked until the Vyner Brooke disappeared beneath the waves, just fifteen minutes had elapsed. The sunken ship left behind her two crowded lifeboats, a few small rafts, and a sea of wreckage to which over a hundred bewildered and frightened survivors were clinging, many of them injured or with severe burns.

Then the planes came back again, this time spraying the wreckage with machine-gun fire. More bodies joined those already floating face down in the water. And this pathetic slaughter was done a fleet of Japanese invasion by launched heavily armed troops against a group of helpless.

The Japanese ignored the plaintive cries for help of those still alive in the water. They had more pressing work in hand. The sinking of the Vyner Brooke had coincided with the Japanese invasion of Bangka Island.

According to the very brief official typed report by the Captain of the “SS Vyner Brooke”, the chronology of the last voyage of the ship was;

Thursday 12 February 1942:
20:00   -           Left Singapore.
24:00   -           Entered Durian Strait and carried on till daylight.
 
Friday 13 February 1942:
08:00   -           Anchored in small bay at island off Lanka Island.
09:00   -           Enemy plane circled ship, no attack.
11:10   -           Enemy plane circled ship, no attack.
11:30   -           Hove up and preceded to Lima Channel, close to shore (Lanka Island).
15:00   -           Ship circled by three enemy planes-no attack. Planes headed north.
 
Saturday 14 February 1942:
01:30   -           Anchored off Tujuh Island.
06:00   -           A plane signalled, but could not understand signal; then plane used machine gun and flew away to the south.
09:00   -           Enemy plane circled ship, but no attack.
10:00   -           Hove, up, and proceeded towards Bangka Strait.
13:00   -           Attacked by nine enemy planes. Ship at full speed and endeavouring by continuous alteration of course to avoid the bombs. Low level bombing by planes.
13:20   -           Orders to abandon ship. Engine stopped, ship listing to Starboard; Port lifeboats all badly damaged.
13:40   -           Ship heeled right over and to Starboard, remained bottom up for about two minutes, and finally sank. During attack, Lewis gun       and 4 inch gun in action. Position of ship 8 degrees north of Muntok Lighthouse when sunk.

Survivors Witness

Wilma Oram, one of Australian Army Nurse Service (AANS) on boarded, reported that "The Japanese planes came over and bombed us. They bombed us at 2 o'clock in the afternoon. We'd already gone down to take shelter below decks. And the side where Mona (Mona Wilton, the best friend with whom she enlisted in the AANS) and I were, we were lying flat on our faces, and the side was blown out of the ship.

There was broken glass sprayed all over us. I thought my legs had been cut off, but when I had a look they were only just cut by flying glass. But one of our girls was badly wounded. She had a very bad wound in her buttock. We carried her up this ladder onto the deck and put a field dressing on it. Then we had to abandon ship.

"It was listing now very badly. So we put the girls with the wounded over the side, down a ladder into a lifeboat, and they got away.”

Then Mona and I climbed over the side and went down a ladder into a lifeboat. Jean Ashton was in the lifeboat. But the ship was coming over very fast. The boat was full of women and children. It was sinking. So we just had to jump out of the life boat. We couldn't get it away from the ship.  Not nearly quickly enough.

So, Mona and I jumped out. It was everybody for them at this stage. And Mona said “I can't swim”. She had a lifebelt so I said “Just dog paddle.” We were both parallel with the ship and trying to get away from it because it was going to tip over on top of us. So dog paddle is what we did. But it did tip over on top of us, and I said to Mona, “The ship's coming down. Look as though we're sunk this time. We're not going to get out of this.” I put my hand up and caught the rail of the ship and came through the rails. When I surfaced again there was no sign of Mona. I don't know what happened to her, I guess the ship came down on top of her and she couldn't get out from under it. I never saw her again.

"I was still trying to get away from the ship because it was tipping over. And the rafts from the high side of the ship started to fall off. They hadn't been thrown over, as they should have been, and I saw this raft coming down. I put my head down. I'd taken off my tin hat prior to this and the raft hit me on the head. And as I came up another raft hit me. I think there were six altogether, one after the other, they hit me on the head and kept pushing me under."

J. Elizabeth Simons reports in her book "While History Passed" that she was lying on the lower deck, her head on a tin helmet for a pillow, wedged between all the other bodies and trying to read the book "Cactus" to take her mind off the discomfort when the Japanese planes struck.

"It became obvious to everyone simultaneously that the lower deck of a sinking ship is very like a prison." She was hit in the arm by flying shrapnel but was too busy to notice the wound until much later when someone was binding it.

"The chip of steel is still somewhere in my arm as a souvenir of the occasion," she says.

"I grasped a rope which hung overboard, kicked off my shoes and slid rapidly down into the water, so rapidly that it turned out that I burned all the skin off my palms, although in the excitement I was completely unaware of the damage until later. I pushed off from the ship and could see that a few of the boats had been successfully launched, but they were so badly holed that the occupants were bailing frantically.... We held a mass meeting in the water... At first it was really pleasant, quite a lark, in fact, to be swimming in the cool water. We had not bathed for some time and even a perfunctory wash had been impossible on the ship... Jenny Greer (AANS) started to sing "We're off to see the Wizard" and the girls joined in as they made towards the piece of wood she was hanging on to."

Elizabeth Simons boarded a raft with two British sailors and a Eurasian radio operator.

Elizabeth Simons continued; Shortly Pat Gunther and Winnie May Davis (AANS) were swept by on the drift and Simons made room on the raft for Gunther by slipping into the water in her place because Gunther could not swim. "Stan (British sailor), Win and I took turns resting on the raft and, between these spells, we clung to the ropes around the sides."

The other sailor was so badly burned and almost naked to the blazing sun that Simons took off her uniform dress and covered him with it.Win Davis found an emergency kit in her own uniform pocket and was able to give him a morphine injection. They were joined by a mother and daughter who also clung to the raft.

During the night the burned sailor slipped off and was lost. During that same night they found themselves surrounded by the Japanese invasion fleet which ignored their cries for help.

“I can remember being hoisted so I could rest the upper part of my body on the raft to take the strain off my hands and arms. In this position, I actually slept!" They saw the beacon fire on Radji beach but luckily the currents did not allow them to land there.

When daylight came, they found themselves literally in the middle of the invasion of Sumatra and later, with POW camp humour, claimed "We really took Sumatra although, unfortunately, the Japs were in larger numbers." Eventually they managed to stop a Japanese landing craft which took the women on board and dragged the men on the raft at its stern until they reached the shore. Their Japanese "rescuers" turned out to be humane, protecting them from possible execution on the beach at the hands of a less sympathetic officer, and giving them water.

Jessie Blanch (AANS), probably the last person to leave the Vyner Brooke as the ship continued to roll over onto its starboard side, it also began to sink bow first, recalled:

“The Captain (of the Vyner Brooke) was good. He zigzagged. They came over and bombed us, and missed. It was a very small ship. They came back and it is said that they dropped 27 bombs. And eventually one hit us. Right down the funnel. The boys down in the engine room were very badly burned. And then we were given orders to abandon ship.

There was no trouble, no worry, because Matron Olive Paschke (AANS) had given us lifeboat drill. She was a marvelous woman, and we just knew where to get off. We only had 2 or 3 lifeboats. So those who could swim had to swim and those who were wounded had to go in the lifeboats.

The majority of the Australian Sisters, 65 of us, we could swim. Our main recreation in Singapore was swimming, because it was so hot. Anyway we all knew what we had to do. I had a bag of dressings. Another Sister had the hypodermic needles with morphia. Some of us had different things. We went about the ship attending to the wounded.

And there wasn't a sound. We knew where we were going, we didn't have to have orders yelled at us. I was one of the last getting off. We all took our shoes off except one Sister. I remember taking my shoes off and placing them neatly on the deck. I looked up and there were two of my friends down in the sea.

By this time the ship was listing the wrong way. I was getting way up in the air and they were calling out "Jump, Blanchie, jump!" Well I jumped and I thought I was never coming up again, it was so long.

Anyway I joined up with those two girls and we saw the ship just roll over a few minutes later.

Quite a lot of debris floated along. And along came a piece of the rail of the ship. Quite a big piece. And we had little cork life belts. And if you didn't swim a bit, these'd tip you up. It was awful. And those who couldn't swim, of course they drowned.

Anyway there were three of us, and then we picked up another two girls, and by putting our hands on that board we could keep together. Swim with one hand and kick. There were 5 of us. Jenny Greer, Beryl Woodbridge, Flo Trotter, Joyce Tweddell and me. And as we got into a current, it took us quite quickly away and Jenny started to sing "We're Off To See the Wizard." And we all joined in.

Surprisingly enough, the Captain got into a different current to us, went to Sumatra and got home. And he said, "There were some Australian Sisters on my ship, but I don't know how many and what happened to them, but they were singing We're Off to See the Wizard." Our people (at home) wouldn't believe it. Anyway, it was true.

That was 25 past 2 according to my watch. Then all the debris, and the people, and a few rafts went. Only one lifeboat floated, and that had the wounded in it. Jenny had a waterproof watch and her watch kept going: 6 o'clock, 7 o'clock.

The night went, we got quite cold and one of the girls got cramp and couldn't swim, and one didn't want to hang on and we roused at her to be strong. I was very strong, and Tweedie was the other one who was a very strong swimmer. We were at the front of the plank. We roused at the girl to keep going, have a bit of courage, "You'll be right, we'll be soon on the land, or somebody'll pick us up.”

Anyway night came. Early in the morning we thought we saw a big cliff. But it wasn't a cliff, it was a huge warship. We realized it was Japs, and they looked overboard, had a look and just laughed. Anyway we didn't care, we didn't want them to pick us up. During the (early) morning we could see a lighthouse. They lit a fire, and we could see in that firelight some of our girls. In uniform. Quite a few had landed there including a couple of who had been wounded, they were in the life boat. That was where the lifeboat landed. But we couldn't get in to that lighthouse. We tried to pull this (plank) in but we couldn't make it.

Eventually, about half past 6 in the morning, we got into a current which took us straight to the beach. And we couldn't stand up. And our skin was all wrinkled. We were covered with oil, we looked an awful sight. We just lay on the beach there in the sun until we thawed out.

Then a native came and told us that the Japanese had taken the island, and it was no good trying to hide. There was no food, no people to help us, he said. I said, "Show us where the Japanese Headquarters is." He left us then because he didn't want to be seen by the Japanese.

So we started off, then as we got near the quarters, young Japanese met us, the five of us. We thought we were going to be shot. He told us to go into a house. There were five or six steps, and we stood on the steps and he yelled at us to stop. We stopped. We had our back to him, and we thought "This is it".

Then he grunted, and we turned around and he beckoned us. We followed him and we met a native with some bananas. He took the bananas from the native and gave them to us.

I think he had a tender heart and couldn't shoot us. Or maybe he just didn't have enough bullets. He took us to the HQ. And were they pleased to see us, because our buttons had Australia on them.

They said, "Australia sister, Australia nurse!" And they were as pleased as Punch. And of course our army should never have let the nurses be taken prisoner.

As soon as the Japs took us prisoner, they grabbed Jenny's watch which was still going. Mine wasn't any good. But they grabbed everything and took them from us.  So later on we came to realize that they'd left us nothing to barter with.

Vivian Bullwinkel recollected when the vessel began to pitch and soon the frightened passengers heard the sound of pouring water. The Vyner Brooke was sinking and the captain gave the order to abandon ship.

The ship was to sink in approximately 15 minutes. Some of the nurses helped to move the wounded topside, while others lent a hand getting everyone up on deck. The civilians were ordered to go over the side first. They were no sooner in the water, than enemy pilots returned and began strafing the human flotsam.

There was utter pandemonium, one lifeboat holding the elderly and children turned over and two empty lifeboats, with bullet holes in them, dropped into the sea.

Vivian helped to see to the casualties and eventually evacuated the ship by climbing down a rope ladder. She was able to get ashore by hanging onto the side of one of the life boats.

Though the lifeboat was overcrowded, they were able to reach Bangka Island by late afternoon. Earlier survivors, including Matron Drummond (one of the senior nurses), had lit a fire on the beach and it was this fire that acted as a beacon for the others still in the water.

Over the next eighteen hours, group of exhausted survivors came ashore on the beaches. The largest group assembled on Radji beach, where by morning some sixty men, women, and children, and twenty-two Australian nurses were huddled together.

That night, a lifeboat containing about twenty British soldiers, many of them injured, landed on the beach, swelling the group to over a hundred. Next morning, it was decided that the women and children should find the Japanese and throw themselves on theirs mercy. Left only the men and nurses on the beach. when the Japanese arrived some hours later, those remaining on the beach, had tragic massacre, later known as tragedy of Bangka Island Massacre.

Lieutenant A.J. Mann informed in his memoirs document written 10 years after the event, when he was serving aboard the Vyner Brooke when she sank.

Until the evacuation of Singapore, Vyner Brooke was a merchant vessel sailing peacefully between Singapore and Kuching. When requisitioned as an evacuation ship she was painted grey and equipped with arms. She needed someone on board who knew how these worked, who was familiar with naval matters in general, and Lt. Mann was posted to serve aboard.

At the time of the evacuation, Capt. Borton's orders were to sail to Batavia, to sail at night and take cover by day. It soon became obvious that by taking cover they became sitting ducks for Japanese dive bombers.

On 14th February, six twin engined Japanese planes split into 3 groups began attacking. Vyner Brooke dodged the first 5 attacks but the 6th struck Number Two hatch and exploded in the hold.

The Japanese attacked again. This time they just missed but smashed the 3 portside lifeboats. The 3 good starboard lifeboats were launched and filled with people. The other 3 holed boats also had people clinging to them.

Lt. Mann saw Capt. Borton slide down the ship's side, by which time it was listing badly, and did the same himself. They met in the water surrounded by about 100 people, in life jackets and clinging to wreckage, and together they watched Vyner Brooke do down.

Lt. Mann was sure the three sound lifeboats would be able to row ashore, about 8 miles away, then come back to pick up more survivors, and so he remained quite calm.

The day passed. Lt. Mann floated on a piece of mast and then later on a hatch cover. He described some people he met in the water, first a ship's raft with nurses clinging to it, and a woman sitting on it holding a baby.

Later he drifted towards a raft and on board to a Siamese (sic) lady and two British children, a girl aged 11 and her brother 9, who he remembered as perhaps called Betty and David. He joined them on their raft and continued to drift along the coast in the strong current, looking for somewhere to land.

As daylight increased he could see a lot of ships, both naval and merchant, landing on the North East corner of Bangka Island, and a Japanese destroyer passed them sailing north, ignoring their calls for help. They made several attempts to enter streams flowing through the mangroves, but the forest was too thick.

On one attempt they were astonished to meet a Staff Sergeant from the RASC called Knight, a survivor from another ship. He was stranded up a tree. He joined the raft too. After spending the night in the swamp they carried on down the coast and saw a lifeboat under sail. This was crewed by 4 Australian naval ratings from HMS Siang Wo.

Their ship had beached on Bangka Island and these 4 had opted to make for Batavia, 300 miles away. They agreed to take the woman and children, but were reluctant to take the 3 men aboard even though they had a 25 foot lifeboat to themselves.

Eventually the ratings agreed to tow the raft with the 3 male survivors on it, until such time as they came to a suitable landing place where Lt. Mann and his companions could make their own way to Palembang, 70 miles distant.

Lt. Mann and his companions were spent paddling down along the coast and struggled to survive until they were found to a party of Dutch soldiers on 26th Feb. This time they were transferred to a larger boat and heading south. They landed in Java on 27th. Lt. Mann was driven to Tjilatjap on the south coast and, on 2nd March, sailed for Fremantle aboard SS Verspyck.

Until 1948, when he learned that Captain Borton was now living in Bradford, England, the Lieutenant believed he was the only officer to have survived the Vyner Brooke's sinking.  He died in the mid-1950s, leaving no children.

Captain R.E. Borton, O.B.E. for himself, after the time of the sinking, he was taken as prisoner by the Japanese in Sumatra immediately after the sinking and was transferred to Changi for the duration of the War. While imprisoned, he did not reveal to his captors that he had been the Vyner Brooke's Master.

When the evacuation of Singapore, his family was evacuated to England in February 1942, luckily they were not aboard the Vyner Brooke, the father's ship.

His eldest daughter, Phyllis Wilson told that "I was only 8 in 1942 so don't remember very much, remembering only the horror my mother felt with 4 young children and bombs falling into the sea as we were making our way to the 'big ship'.

They spent the war living in Leeds until Captain Borton's eventual release after the war end. He died in 1965.

Remembering Vyner Brooke

Commemorating the thousands of dead who borded Vyner Brooke in the waters around Bangka Island and on land, a memorial monument was built by Australian Government in front of the Muntok's Tanjung Kalian Lighthouse, near the location of massacre of Australian Army Nurse by Japanese at Radji Beach after stranded from Vyner Brooke.

Sister Vivian Bullwinkel was the sole survivor from the massacre and became POW. Then, on 2 March 1993, Sister Vivian Bullwinkel and her fellow POWs attended the commemorative on that island.

A bronze plaque on a granite obelisk also built on the banks of a lake, Point Walter Reserve, Australia. On 2 May 1999, Vivian Bullwinkel and another survivor, Wilma Oram, inaugurated it.

In February 2018, a memorial was also built at a location near Radji Beach. On the placard installed were also the names of the victims and the Australian Army Nurse, passengers of Vyner Brooke. At the bottom of the placard, there was a picture of SS Vyner Brooke before she was taken over by the British Royal Naval turned it into an armed vessel.

To recognise the story of this devastating but also inspiring struggle for survival, a producer of Australia's coins, Royal Australian Mint, released A special collectible commemorative 20 cent coin

Mint Chief Executive Officer Mr Ross MacDiarmid said the coin design depicts the SS Vyner Brooke's torturous journey while the packaging features several images including a group photo of the Australian war nurses and Australia's most distinguished war nurse, the late Lieutenant-Colonel Vivian Statham, also known by her maiden name Vivian Bullwinkel.

Beside the Vyner Brooke, it is said that there were others 46 ships carrying evacuees left Singapore between February 12 to 17, 1942, and that of these vessels, almost half of them were bombed and sunk as they passed down the Bangka Straits from Singapore toward Java and Australia. Thus thousands of men, women, and children were killed before any could reach land. 

Most of the others ships were captured and others no further information. Some prisoners were shot to dead and most of them were end in the camps of Singapore, Muntok, Palembang, and other parts of Sumatra.

The reason for this tragic loss of life was as a result of a large Japanese naval force which was anchored at the head of the Banka Straits directly in front of the ships carrying evacuees.***

Penulis: 
Muhammad Erfan
Sumber: 
Disparbud Babar