Rumah Tumenggung Mentok - dari rumah Hoofdjaksa hingga markas pergerakan kaum republik.

Rumah Temenggung di Mentok dibangun oleh Abang Aripien seorang pemimpin lokal Bangka yang bergelar Tumenggung Kertanegara. Didirikan sekitar Tahun 1870, sebagai rumah tinggal, dengan komplek perumahan yang lengkap dengan kantor/perpustakaan, gudang, bangunan pendukung untuk pembantu tumenggung dan kandang kuda.

Beberapa hal menarik jika memperhatikan temuan informasi deskripsi sejarah terkait bangunan ini:
1. Aripien (Ca. 1810 -1873), menurut EP Wieringa, dalam buku “Carita Bangka Het Verhaal van Bangka. Tekstuitgave Met introductie en Addenda, pada halaman 18 dan 142 menyatakan bahwa Aripien adalah anak (Abang) Muhammad dengan Yang Halimah. (Abang) Muhammad adalah Muhammad bin Kari alias Abang Muhammad Juru Tulis yang merupakan ipar dari Abang Yunus bin Abang Kumbang yang bergelar Demang Wirada Perana (halaman 118). Sekitar Tahun 1813, Mayor Henri Court dari EIC mengangkat (Abang) Muhammad sebagai pemegang kampung Jiran peranakan dan Siantan (halaman 121).

2. Pada Tahun 1830, (Abang) Muhammad Juru Tulis anggota Landraad di Mentok saat Haji Abdul Rachman sebagai Hoofd Jaksa (sumber: Almanak Regering Het Jaaar 1831,hal. 65)

3. Pada 1 Maret 1841, (Abang) Aripien bin (Abang) Muhammad sebagai Hoofd Jaksa pada Personeel ter Hoofdplaats di Mentok (sumber: Almanak Regering Het Jaaar 1865, hal. 245).

4. Pada Tahun 1851, (Abang) Aripien bin (Abang) Muhammad diberi gelar “Toemenggoonghoofd-jaksa” pada Personeel ter Hoofdplaats di Mentok (sumber:Almanak Regering Het Jaaar 1852, hal. 78), dan pada Tahun 1852, (Abang) Aripien bin (Abang) Muhammad diberi gelar “Karta Negara Toemenggoong hoofd-Jaksa” pada Personeel ter Hoofdplaats di Mentok (sumber: Almanak Regering Het Jaaar 1853, hal. 87).

5. Pada Tahun 1873, (Abang) Aripien “Hoofd-JaksaToemenggoong Karta Negara” meninggal dunia dan dimakamkan dibalik tembok kota seribu .(sumber: Carita Bangka Het Verhaal van Bangka. Tekstuitgave Met introductie en Addenda, halaman18).

6. Sepeninggal Abang Aripien Hoofd-JaksaToemenggoong Karta Negara, kota Muntok dipimpin Abang Muhammad Ali yang merupakan Demang Muntok.

Sekitar tahun 1875 didirikan sekolah agama khusus untuk anak perempuan kaum keluarga keturunan pendiri kota Muntok oleh Abang Muhammad Ali. Sekolah agama ini bertempat di Rumah Temenggung (A) dan kemudian dikenal sebagai sekolah Arab. Pada tahun 1920an, guru perempuan didatangkan dari Padang dan diganti tiap 6 bulan. Hamidah termasuk guru perempuan yang mengajar disini. Pada tahun 1930an H. Abdullah bin H. Ya’kub menjadi guru agama yang mengajar disini. H. Abdullah kemudian diangkat menjadi Hoofd Penghoeloe di Distrik Bangka Utara hingga tahun 1942. Beras dan minyak tanah adalah insentif dari orangtua tiap anak yang diantarkan setiap bulannya ke sekolah Al-Hidayah ini. Sekolah Al-Hidayah berakhir sekitar tahun 1952 dikarenakan adanya lembaga pendidikan umum Sekolah Rakyat (SR) yaitu sekolah umum yang bersifat nasional yang bertempat di wilayah pemukiman Belanda. setelah bertahun kosong dan tidak dipergunakan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan, Rumah Temenggung ini pada tahun 1961 dijual oleh ahli warisnya.

Pada masa invansi militer Jepang, kompleks bangunan ini menjadi sasaran penyerangan militer Jepang. Bom yang dilepaskan pesawat tempur Jepang pada awal Februari 1942 mengenai bangunan kantor / perpustakaan (bangunan B). Sehingga sebagian bangunan (Kantor/Perpustakaan) dan sebagian besar arsip hancur terbakar. Bangunan rumah tinggal (bangunan C) hancur di bagian depan. Sekitar pintu depan bangunan (bnaugnan D) terkena tembakan pesawat Jepang. Rumah Temenggung (bangunan A) merupakan bangunan yang selamat dari penyerangan. Pada masa pendudukan Jepang, sekolah Al-Hidayah ini diizinkan melanjutkan kegiatan aktivitas belajar di bangunan utama (bangunan A) yang selamat dari pemboman.

Dikarenakan Rumah Temenggung ini terletak di wilayah pusat pemukiman Melayu dan telah lama dihibah-gunakan oleh ahli waris Abang Aripien Hoofd-Jaksa Toemenggoong Karta Negara, sebagai tempat kegiatan sosial kemasyarakatan bagi orang-orang Melayu Muntok, maka pada masa awal kemerdekaan Indonesia, bangunan ini merupakan :

1) Tempat pemberitahuan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia di Muntok (September 1945). Tempat berkumpulnya para pendukung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Muntok (1945-1948), menjadi markas orang-orang Republikien di Muntok, yang disamarkan dalam organisasi PORI dan PERWANI.

2) Pada masa Pemimpin RI diasingkan (inexile) di pulau Bangka (1948-1949), Rumah Temenggung ini menjadi tempat pertemuan para pemimpin RI (Presiden Sukarno, Perdana Menteri. Moh Hatta, Menteri Luar Negeri H.Agus Salim) dengan organisasi kemasyarakatan di Muntok yang pro Kemerdekaan RI (PORI: Persatuan Olahraga Republik Indonesia, PERWANI : Persatuan Wanita Indonesia)

Informasi ini sudah memberikan sentuhan awal tentang arti penting bangunan ini dari sudut pandang sejarah baik pada masa kolonial Belanda, invasi militer Jepang, dan masa revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dari data umum diatas, bangunan rumah tumenggung Mentok adalah bangunan bergaya Mixed Indische Empire dan Indische Woonhuis. Walaupun berlatarbelakang budaya melayu, tetapi pengaruh kolonial menjadi kental terasa dari penggunaan kolom doric di teras depan bangunan. Bangunan yang dibangun pada periode Bangka dibawah kontrol kolonial Belanda ini, menempatkan Tumenggung Aripien sebagai tokoh lokal yang berpengaruh, utamanya sebagai kepala pengadilan pribumi.
Bangunan ini dideteksi tidak hanya berunsur tunggal. Setidaknya didapati 5 bangunan yang merupakan kesatuan dari kompleks kediaman Tumenggung Aripien. Dalam denah lingkungan dan peta Mentok era kolonial, kompleks ini dengan mudah terlihat. Tentang ketokohan seorang Abang Aripien yang kemudian menjabat Hoofdjaksa, lalu mendapat gelar kehormatan sebagai Tumenggung Kertanegara oleh kolonial Belanda, dapat ditemukan pada catatan Belanda dan manuskrip melayu Bangka seperti Riwayat Pulau Bangka Berhubung dengan Palembang (Tulisan Raden Ahmad dan Abang Abdul Jalal, 1925, tidak diterbitkan, arsip KITLV Leiden Belanda). Riwayat Abang Aripien dinyatakan dalam tulisan tersebut mulai dari Fasal XXI “Benih jang baik djatoeh kelaut mendjadi poelau”(halaman 84-85):

“... setelah Arifin besar, ia telah menjadi seorang yang bijaksana dan bersifat berani, sehingga segala orang bangsawan dan baik di Mentok suka dan sayang kepadanya. Maka oleh sebab pergaulan yaang amat baik itu Arifin diambil jadi menantu oleh Abang Muhammad jurutulis, keturunan dari Abang Kumbang dengan anaknya yang bernama Yang Hasmah. Karena perkawinan itu, atas mufakatnya kaum keluarga keturunan bangsawan di Mentok, Arifin diizinkan memakai gelar Abang, turun temurun sampai kepada anak cucunya. Sebermula tuan Abang Arifin itu mula-mula bekerja jadi jurutulis di kantor residen di Mentok, sehingga berturut-turut senhingga menjadi Hoofddjaksa Landraad di Muntok dengan bergelar Temenggung Kerta Negara yaitu suatu gelar anugerah dari perintah karena jasa beliau”

Dalam manuskrip tersebut Abang Aripien diungkapkan sebagai tokoh yang pandai, memiliki kemampuan menyelesaikan tugas-tugas dengan baik, bijaksana dan bertanggungjawab. Prestasi yang dipandang besar, adalah penangkapan Depati Amir yang membuat rusuh kepentingan kolonial Belanda di Bangka. Disebutkan bahwa pada Tahun 1849 Residen Bangka di Muntok menitahkan Hoofddjaksa Abang Arifin pergi ke Pangkalpinang dan ke tempat-tempat lain yang menjadi sasaran kerusuhan oleh Depati Amir. Hoofddjaksa Abang Arifin berangkat melalui jalan laut. Di Pangkalpinang bertemu dengan tuan Kongsi dan Demang untuk memastikan informasi.

Kemudian melanjutkan perjalanan ke Koba dan kembali ke Mentok untuk melaporkan temuannya kepada Tuan Residen. Setelah menerima laporan, Residen memerintahkan Hoofddjaksa Abang Arifin untk menangkap Depati Amir berserta kelompoknya dengan tipu muslihat. Abang Arifin mengatur sebuah muslihat untuk menangkap depati Amir di Pangkalpinang dengan mengundang jamuan makan minum yang telah diberikan obat penidur, tetapi tidak berhasil. Karena itu serdadu dari Mentok diminta datang untuk menangkap Depati Amir. Terjadi beberapa kalo pertempuran. Di Mendara, Tajubelah, dan Kampung Kepiting, lalu Amir akhirnya menyerahkan diri kepada Batin Kemuja, yang membawa mereka menghadap Hoofddjaksa (yang tiba di Bakam), memohon diampuni atas kesalahannya. Depati Amir di bawa ke Mentok, lalu diputuskan dihukum buang ke Kupang pada 4 Februari 1851.
Pasca pemberontakan Depati Amir, Hoofddjaksa Abang Arifin dititahkan kembali untuk meredam pemberontakan Batin Tikal, menangkapnya, dibawa ke Mentok, diadili, dan diputuskan dibuang ke Menado.
Setelah kerusuhan ini, Residen memerintahkan lagi kepada Hoofddjaksa untuk membangun jalan raya keliling Pulau Bangka dan kampung-kampung yang berada di hutan/gunung agar dipindahkan ke tepian jalan besar sebagaimana keadaan hingga saat ini.

Setelah kejadiaan inilah, gelar Tumenggung Kerta Negara disematkan kepada Abang Arifin; gelar yang juga berarti kuasa untuk memerintah seluruh negeri di Bangka. Dalam pandangan lain, ini berarti jabatan sebagai tangan kanannya Residen Bangka untuk mengatur dan menjaga negeri Bangka.

Bahkan ada yang menambahkan Abang Arifin juga sering diminta menangani perkara yan sulit. Ketika beliau memeriksa sebuah perkara, seorang pesakitan yang berbohong dipastikan tidak dapat berbohong jika berada di hadapan Abang Arifin. Perkara yang terkenal adalah peristiwa pembunuhan Hadji Taib di Pangkalpinang Tahun 1873. Kepala pemerintahan di Pangkalpinang tidak dapat menerangkan pembunuhnya. Kemudian Residen meminta Abang Arifin menyelesaikannya. Hanya dalam waktu 8 hari beliau mampu menangkap 8 orang cina yang membunuh termasuk menemukan mayat Haji Taib yang disembunyikan. Tidak berapa lama dari kasus ini, Abang Arifin tiba-tiba sakit lalu kemudian meninggal dunia. Beliau dimakamkan di luar Kota Seribu, dengan kehormatan militer serta diantar oleh pejabat seperti Residen, Ambtenaar Eropa, Tionghoa, Melayu.

Setelah meninggalnya Abang Aripien, bangunan ini masih memiliki keterkaitan dengan peristiwa sejarah berikutnya. Adalah Sekolah Al hidayah, sekolah agama khusus untuk anak perempuan kaum keluarga keturunan pendiri kota Muntok didirikan tahun 1875 oleh Abang Muhammad Ali.

Pada masa invasi militer Jepang Sekolah Al Hidayah tetap berdiri. Walau komplek rumah Tumenggung ini menjadi sasaran bagi penembakan dan pengeboman yang dilakukan Jepang antara lain bangunan gudang dan bangunan kantor.

Informasi menarik berikutnya adalah pada periode Revolusi kemerdekaan RI. Beberapa foto menunjukkan aktivitas kaum republiken di komplek bangunan ini. terdapat sebuah foto yang memotret aktivitas peringatan 3 Tahun Proklamasi kemerdakaan Republik Indonesia di Rumah Tumenggung oleh kaum Republiken di Mentok (pada foto, terdapat Abang Yusuf Rasidi; Presiden Bangka era Republik Indonesia Serikat). Tidak banyak foto aktivitas kaum Republiken di Mentok sebelum kedatangan para tokoh republik yang diasingkan ke Bangka pada 22 Desember 1948-6 Juli 1949.
Dari detail bangunan pada foto tersebut, dapat dipastikan foto ini diambil pada bagian teras depan rumah Tumenggung.

juga terdapat foto Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh Hatta bersama ibu dan anak-anak Muntok di teras Rumah Tumenggung. Peristiwa ini diduga kuat terjadi di Tahun 1949. Visum atas foto menunjukan bahwa peristiwa ini menggunakan teras depan rumah Tumenggung. Daun jendela ditengah, dua pintu sebelah kiri dan kanan, serta bekas KWH listrik, saat ini masih dapat ditemukan. Presiden Sukarno dan para tokoh yang diasingkan di Muntok (1948-1949) berfoto bersama anak-anak Muntok di teras Rumah Tumenggung yang sudah difungsikan sebagai sekolah Madrasah Alhidayah.

Foto ini sangat jelas memperlihatkan bagian teras bangunan. Didepan anak-anak itu bahkan masih terlihat susunan batu bata yang menjadi bagian dari hiasan taman (setengah lingkaran) seperti dalam denah kompleks rumah tumenggung. Aktivitas PERWANI pada tahun 1948. Peristiwa dalam foto berlokasi tidak jauh dari komplek rumah tumengung. 

Bangunan ini sangat memiliki arti penting dari sudut sejarah dan budaya. Saya memberi judul atas tulisan ini “ Rumah Temenggung Mentok - dari rumah Hoofdjaksa hingga markas pergerakan kaum Republiken”. Melampaui batas masa kolonial Belanda - invasi militer Jepang - era Kemerdekaan Republik Indonesia. Bangunan ini masih berdiri sampai saat ini, menjadi “monumen” dari perjalanan waktu atas jejak peradaban manusia di Mentok-Bangka-Indonesia.

Sebagai kompleks kediaman Hoofdjaksa saja sudah cukup memiliki arti penting. Betapa pada era kolonial Belanda, seorang pribumi menjadi kepala pengadilan (Landraad), kemudian menjadi kepercayaan pemerintah untuk ikut mengatur negeri dengan gelar Tumenggung Kerta Negara; melanjutkan peran leluhur Mentok sebagai Rangga-Tumenggung pada masa Bangka dibawah kekuasaan Kesultanan Palembang, adalah sebuah fase bersejarah bagi Mentok dan Pulau Bangka.

Bangunan yang memiliki kekhasan, mixed dengan pengaruh kolonial Belanda (kolom doric, lantai terakota, pintu dan jendela besar, sistem ventilasi ruangan), tetapi juga memiliki latarbelakang budaya melayu yang muncul dalam ornamen tiang penyanggah dan bentuk lubang cahaya di dari atap bangunan.

Kisah Sekolah Al Hidayah yang kemudian menggunakan bangunan ini sebagai tempat aktivitas belajar mengajar perlu diselamatkan untuk kemudian disematkan pada ingatan komunal generasi saat ini bahwa upaya menghadirkan pendidikan yang berorientasi pada religi dan semangat egaliter.
Dan sebagai bangunan yang juga terbukti dipergunakan pada masa revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia, bangunan ini memiliki nilai yang nostalgic. Ditunjukkan dengan iconic dari kronik Revolusi Kemerdekaan Indonesia, dwi-tunggal; Sukarno-Hatta yang pernah beraktivitas bersama dengan kaum Republiken dan masyarakat Mentok pada masa pengasingan di Bangka. Pada bangunan ini juga menjadi saksi dari pergerakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh lokal yang juga memiliki peran penting pada masa itu seperti Abang M. Yusuf Rasidi menjadikan bangunan ini layak untuk dilestarikan sebagai warisan budaya daerah. Agar menjadi pengingat bagi anak bangsa hari ini, bagaimana peran yang telah dilakukan dan diwariskan oleh para tetua dan leluhur. Mengukur seberapa yang akan generasi kini lakukan untuk masa depan dan generasi berikutnya. 

Sudah selayaknya peninggalan sejarah ini diselamatkan, dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai cagar budaya. atau dikelola sebagai Rumah budaya melayu Mentok atau Museum Budaya Negeri Melayu Mentok. Intepretasi dari kekayaan warisan budaya yang ada pada bangunan ini dan kekayaan kluster melayu disekitar rumah tumenggung. sebagai pengingat kita semua atas sejarah. Untuk warisan bagi generasi di masa depan agar tak lupa dengan kejayaan masa lalu. 

Penulis: 
Bambang Haryo Suseno
Sumber: 
Disparbud