SEDEKAH LAOT DI DUSUN KERANJI DESA RAMBAT KECAMATAN SIMPANG TERITIP KABUPATEN BANGKA BARAT ( FUNGSI UPACARA ADAT DALAM MASYARAKAT)

     Sebuah ritual atau pun tradisi tidak akan mudah hilang, dan akan bertahan lama apabila ritual atau tradisi tersebut memiliki fungsi dalam kehidupan suatu masyarakat, dimana fungsi tersebut tidak akan mudah lenyap dengan sendirinya, karena sejak dulu sampai saat ini masih ada. Salah satu masyarakat yang masih setia mempertahankan tradisi dan ritual nenek moyang mereka adalah masyarakat Dusun Keranji Desa Rambat Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat. Salah satu ritual yang telah menjadi tradisi dan masih dipertahankan oleh masyarakat Dusun Keranji Desa Rambat adalah upacara adat sedekah laot, yang selalu dilaksanakan tiap tahun oleh masyarakat Dusun Keranji Desa Rambat yang berlokasi di Pantai Keranji, dimana sedekah laot ini masih dipertahankan oleh masyarakatnya sampai sekarang. Jadi, tradisi sedekah laot yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Keranji Desa Rambat masih bertahan karena memiliki fungsi bagi masyarakatnya. Menurut Rostiati (1995), upacara adat memiliki tiga fungsi yaitu fungsi spiritual, fungsi sosial, dan fungsi pariwisata.

    Pesta adat sedekah laot atau bisa juga disebut taber laut merupakan suatu tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh pemangku adat yang menjadi pelaksana yang telah menjadi keharusan keturunannya. Tradisi ini dilaksanakan dengan perhitungan kalender bulan oleh pemangku adat, biasanya dilaksanakan pada bulan ke 6 hari ke 15-16 ketika bulan tepat di atas dan ketika masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan sedang tidak melaut. Prosesi ritual sedekah laot ini dilaksanakan oleh Nek Endang yang merupakan keturunan ke 4 dari keturunan nenek moyang Desa Rambat, selaku pemimpin ritual, dan Bapak Jumadi sebagai pendamping, yang merupakan keturunan ke 5. Berdasarkan dari keterangan Bapak Jumadi, bahwa ritual Sedekah Laot dahulu kala dilakukan secara serempak oleh para dukun laot dari Penjuru Menumbing hingga Pulau Tujuh. Ritual ini bukan hanya dihadiri oleh para manusia saja, namun para makhluk halus dari Penjuru Menumbing hingga Pulau Tujuh pun ikut berdatangan meramaikan ritual adat sedekah laot ini.

    Asal muasal tradisi ini terjadi beratus tahun yang lalu, dimana pada waktu itu daerah Keranji masih hutan belantara dan terkenal keangkerannya. Buyut dari Nek Endang dan Bapak Jumadi adalah orang pertama yang membuka perkampungan di daerah Keranji sehingga keluarga mereka adalah keluarga pertama di daerah Keranji. Pada suatu hari buyut mereka hilang di lautan, setelah sekian lama hilang buyut mereka ini mulai datang ke salah satu keturunannya untuk meminta makan. Dari sinilah awal mulanya dilakukan ritual sedekah laot, dengan melarungkan sesaji yang berupa makanan untuk dipersembahkan kepada buyut mereka, dan prosesi ini harus dilakukan secara turun temurun. Sedekah Laot ini merupakan kekayaan budaya Dusun Keranji Desa Rambat di Kabupaten Bangka Barat. Bagi masyarakat Dusun Keranji Desa Rambat, budaya adat ini mengedepankan kearifan lokal dalam menyikapi kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya terkait dengan keseimbangan manusia dengan alam sekitar. Bumi dengan hasil buminya dan manusia yang mengolahnya, maupun lautan dengan hasil laut serta manusia yang mengolahnya.

    Sebelum pelaksanaan ritual sedekah laot, dilaksanakan proses pembuatan perahu yang biasa disebut perao oleh masyarakat Dusun Keranji, yang akan digunakan pada saat ritual sedekah laot esok harinya. Perao tersebut dibuat oleh keluarga dukun laot yaitu suami dan anak dari Nek Endang, dengan ukuran perahu kurang lebih 1 meter. Pada Sabtu malam dilaksanakan ritual ceriak yang dipimpin oleh dukun laut di Dusun Keranji tersebut yaitu Nek Endang dan Pak Jumadi (biasa dipanggil Pak Bodel) sebagai pengantar atau persiapan untuk melakukan ritual sedekah laot pada pagi harinya,  dimana ritual ini merupakan proses pemanggilan arwah untuk pelaksanaan acara sedekah laot. Ritual ceriak dimulai pukul 19.00 WIB s.d pukul 20.00 WIB. Warga Desa Rambat mempercayai bahwa ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar sebelum sedekah laot dilaksanakan, yaitu tidak boleh melakukan aktifitas di laut dan di hutan. Pantangan tersebut dimulai Sabtu sore pukul 17.00 WIB hingga selesai acara keesokan harinya. Jadi selama rentang waktu pantangan tersebut tidak ada masyarakat Dusun Keranji Desa Rambat yang pergi ke laut dan ke hutan. Apabila larangan tersebut dilanggar akan terjadi masalah yang mengakibatkan kesialan dan keburukan. Namun bila ritual sedekah laot sudah dilaksanakan, maka masyarakat diperbolehkan untuk beraktifitas di laut dan di hutan.

    Dalam prosesi ritual sedekah laot, digunakan beberapa perlengkapan, yaitu kapal yang akan dilarungkan, dan juga beberapa bahan untuk pelaksanaan ritual ceriak. Untuk pembuatan kapal diperlukan papan untuk badan dan alas perao, kayu sebagai tiang penyangga, batang sagu untuk membuat orang-orangan laki-laki dewasa yang jumlahnya puluhan sebagai lambang nakhoda kapal, plastik hitam sebagai layar, kertas minyak warna merah putih sebagai lambang bendera Indonesia. Ritual Taber menggunakan daun simpur dalam prosesi taber. Dukun laot mengibaskan daun simpur pada pasir pantai dan air laut sebagai tanda tolak bala, dan juga digunakan sebuah parang berumur ratusan tahun yang digunakan dalam ritual ceriak dan larung perao. Adapun untuk bahan-bahan sesaji ritual larung perao, antara lain pisang, jeruk, kelapa muda, ketupat kuning dan hijau, lepat kuning dan hijau, nasi ketan kuning, putih dan merah, lilin merah, bubur cacak, tikar anyaman daun kelapa warna kuning dan hijau, kunyit, dan kelapa parut yang dibumbui dengan gula merah. Semua bahan-bahan untuk sesaji tersebut diletakkan di atas daun simpur yang berukuran besar. Semua bahan tersebut diletakkan di dalam perao yang siap dihanyutkan. Bahan-bahan sesaji ritual ceriak, antara lain ayam panggang, ketan merah dan putih, pisang, telur ayam, jeruk, ketupat, lepat, lilin merah, dan sabut kelapa.

Event Sedekah Laot ini dilaksanakan di Pantai Batu Keranji Dusun Keranji Desa Rambat. Ritual sedekah laot dilaksanakan dalam 2 tahapan, yaitu :

Ceriak kampung

      Setelah perahu selesai dibuat, dipindahkan ke depan rumah dan langsung diisi oleh sesaji berupa makanan yang telah disiapkan. Kemudian diletakkan lilin di atas perahu. Malam hari sehabis Magrib, dukun kampung Nek Endang dan Pak Jumadi melakukan ceriak kampung yang bertujuan mengundang seluruh makhluk gaib dari seluruh penjuru desa untuk ikut dalam kegiatan sedekah laot ini. Prosesi ceriak dilakukan di depan rumah Nek Endang, bersama Pak Jumadi duduk bersila beralaskan tikar di depan pintu dengan sesaji dihidangkan di depan mereka. Ada semangkuk bara api dihadapan mereka, kemudian mereka berdiam merapalkan bacaan. Lalu Nek Endang menggenggam beras dan ditempelkan di kening kemudian ditaburkandi sekeliling bara dan sisanya dilemparkan ke depan 2 kali dan ke belakang mereka 1 kali, kemudian Pak Jumadi juga melakukan hal yang sama. Selanjutnya Nek Endang membuka senjata yang telah disiapkan di depannya berupa parang, parang tersebut diasapi di atas bara sambil dipegang. Kemudian Nek Endang secara bergantian melakukan hal yang sama seperti sebelumnya yaitu mengambil beras dan dilemparkan ke depan dan ke belakang. Kemudian setelah selesai prosesi, makanan yang dihidangkan di depan mereka dipindahkan ke dalam perahu. Pada prosesi ritual ceriak malam hari, orang-orang dilarang berada di depan dan di belakang si dukun kampung, karena dikhawatirkan akan mengganggu jalan masuknya para makhluk gaib yang diundang datang.

Sedekah Laot

    Keesokan harinya dilakukan ritual ceriak kembali, dimana perahu diarak dan dipikul ke pantai dengan berjalan kaki. Sesampainya di pantai, Pak Jumadi berkeliling mengibaskan air dari dalam mangkuk dengan setangkai daun di sekitar pantai dan juga meletakkan hidangan yang sudah disiapkan di atas batu. Ketika prosesi ceriak dilakukan, orang-orang dilarang berada di depan perahu, karena jalur lurus dengan perahu merupakan jalan masuk dan keluar bagi para makhluk gaib yang diundang. Setelah prosesi selesai, Nek Endang dan Pak Jumadi naik ke dataran di atas pantai, di sana mereka melakukan prosesi ritual lagi untuk memanggil kembali makhluk gaib dari segala penjuru. Kemudian mereka melakukan pergantian bendera merah putih kecil di atas sebuah tiang kayu, yang merupakan salah satu rangkaian prosesi dari sedekah laot. Setelah itu mereka turun kembali menuju lokasi ditempatkannya perahu ritual.

     Dalam prosesi sedekah laot, sebelum melarungkan perahu, biasanya ada beberapa masyarakat berbalas ucap atau bernazar akan melepaskan ayam pada saat sedekah laot. Berbalas ucap atau bernazar adalah suatu janji yang ingin dilaksanakan ketika dahulunya mengalami suatu masalah dan telah terselesaikan, ataupun menginginkan sesuatu dan berharap menjadi lebih baik untuk kedepannya secara duniawi. Ayam yang dipergunakan adalah ayam hitam berumur sedang, bebas jantan atau betina. Pada prosesi berbalas ucap atau bernazar ini jika terdapat lebih dari satu orang yang bernazar, maka dukun kampungakan melakukan pelepasan ayam secara simbolis, dan selanjutnya masyarakat yang memiliki nazar akan melepaskan ayamnya masing-masing secara langsung. Tapi jika yang bernazar hanya satu orang maka yang bersangkutan langsung yang melepaskannya. Adapun cara melepaskan ayam adalah dengan melemparkan ayam ke atas, dan warga lain di sekitar akan berhamburan untuk memperebutkannya. Kemudian setelah prosesi berbalas ucap atau bernazar tadi selesai, maka dukun kampung dan masyarakat kembali ke perahu ritual untuk bersiap dilarungkan. Perahu kemudian diangkat dan dipimpin oleh Pak Jumadi menuju pantai diikuti warga disebelah kanan dan kiri perahu. Perlahan perahu dipikul sampai ke dalam laut dengan ketinggian air kurang lebih mencapai pinggang, dan kemudian perlahan diturunkan. Saat perahu dilepaskan, masyarakat dan dukunkampung berdiri di pinggir pantai dan dilarang untuk turun ke pantai. Perahu yang telah diturunkan tadi akan perlahan bergerak menjauhi pantai menuju laut bebas. Setelah cukup jauh, dukun kampung mengumumkan bahwa masyarakat sudah boleh mandi dan turun ke pantai, dan secara serempak anak-anak, remaja dan orangtua turun dan mandi di pantai, yang juga dipercaya sebagai cara untuk buang sial.

    Salah satu bentuk sarana sosialisasi yang dikenal oleh masyarakat, terutama yang masih kuat berpegang pada tradisi turun-temurun ialah upacara tradisional. Salah satu fungsi upacara tersebut ialah sebagai pengokoh norma-norma dan nilai budaya yang telah berlaku sejak lama. Seperti halnya warga masyarakat Dusun Keranji yang mengikuti upacara itu dengan sikap khidmat dan merasakan sebagai suatu yang sakral magis, dengan disertai berbagai peragaan  serta perlengkapan yang bersifat simbolis. Adapun fungsi upacara adat pada sedekah laot Dusun Keranji dapat dilihat pada tiga hal yaitu :

1. Fungsi Spiritual

  • Prosesi pelepasan perao yang mempunyai nilai spiritual di dalam pelaksanaannya yang memiliki tujuan agar semua aktivitas para nelayan di laut Rambat tidak menemui kendala yang berbahaya dengan melakukan prosesi pemujaan kepada leluhur, roh atau kepada Tuhan untuk meminta keselamatan. Pelepasan perao tersebut berisi serangkaian sesaji yang merupakan tradisi warga Desa Rambat yang disertai dengan pengharapan agar laut memberikan keberkahan di tahun selanjutnya:

2. Fungsi Sosial

  • Pada pelaksanaan sedekah laot Dusun Keranji, masyarakat memiliki kontrol sosial, interaksi, integrasi dan komunikasi yang sangat kuat. Dimulai dari persiapan mereka membuat perao, menyiapkan segala sesajian, hingga ke prosesi melarungkan perao tersebut yang disaksikan oleh seluruh masyarakat, dimana kebersamaan  ini dapat mempererat hubungan antar masyarakat Dusun Keranji;

3. Fungsi Pariwisata

  • Fungsi pariwisata pada sedekah laot Dusun Keranji terlihat dari banyaknya masyarakat yang datang untuk menyaksikan prosesi ritual sedekah laot tersebut. Masyarakat yang datang tidak hanya dari masyarakat lokal Dusun Keranji Desa Rambat saja selaku pelaksana acara, namun juga diikuti dan disaksikan oleh masyarakat luar Desa Rambat.

    Sedekah laot merupakan pesta adat desa yang pelaksanaannya melibatkan hampir semua warga masyarakat di Dusun Keranji, mereka saling bahu membahu menyelenggarakan sedekah laot tersebut. Dalam penyelenggaraan sedekah laot Dusun Keranji Desa Rambat ini, nilai kegotong royongan dan rasa kebersamaan memang sangat menonjol. Warga masyarakat dengan hati tulus ikhlas ikut mempersiapkan segala sesuatu agar pesta adat dapat terlaksana dengan baik. Pesta adat sedekah laot ini juga merupakan wujud dari iman warga masyarakat Dusun Keranji Desa Rambat terhadap kebesaran Tuhan. Mereka berkeyakinan bahwa dengan pertolongan Tuhan, mereka dapat lepas dari bala yang mengancam kehidupan umat manusia. Doa-doa yang dipanjatkan merupakan refleksi dari nilai-nilai keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam alam pikiran warga setempat. Dengan segala keterbatasannya, lewat upacara adat, mereka berupaya untuk memohon pertolongan dari Tuhan Yang  Maha Kuasa agar terhindar dari marabahaya.

Penulis: 
DD Siregar
Sumber: 
Disparbudbabar