Sidang pendaftaran usulan cagar budaya

Muntok(28/08), Sidang pendaftaran usulan cagar budaya Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi. Kep. Bangka Belitung, dilaksanakan secara daring/ online dijadwalkan selama dua hari dimulai Kamis dan Jumat tanggal 27- 28 Agustus 2020. Bertempat di ruang rapat Dinas Pariwisata dan Kebudyaan Kab. Bangka Barat( DISPARBUD).

Tim Pendaftaran Cagar Budaya Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mengusulkan enam cagar budaya, diantaranya Bangunan Gudang Kuning, Pelabuhan Lama Muntok, Struktur Benteng Kute Seribu, Bangunan Eks. Rumah Residen, Benda Mobil BN10. Struktur Bangunan Benteng Kota Tempilang, 

Sidang dilaksanakan bersama oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kab. Bangka Barat dan diketuai oleh Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S. T., M. Sc., Ph. D (Universitas Indonesia) dengan anggota tim yang berasal dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, serta Tim Ahli Cagar Budaya Bangka Barat ; Chairul Amri Rani, M. Eng, Bambang Haryo Suseno, dan Arnol Feryari, S. AP.

Pelestarian Cagar Budaya merupakan upaya untuk mempertahankan warisan budaya bangsa yang tersebar di wilayah negara Indonesia maupun yang berada di luar negeri. Pelestarian ini merupakan realisasi amanat Undang-Udang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 untuk menjaga kekayaan yang tersimpan di darat, air, dan udara. Pelestarian yang semula dipahami secara sempit hanya sebagai upaya pelindungan, kini diperluas tidak saja untuk maksud tersebut tetapi terkait juga dengan upaya pengembangan dan pemanfaatan. Perluasan pemahaman ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa tidak satu pun unsur dari pengertian pelestarian itu yang berdiri sendiri, melainkan merupakan sebuah kesatuan yang saling mempengaruhi tanpa dapat dipisahkan.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya menegaskan bahwa Cagar Budaya adalah benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, agama, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dan bersifat rapuh serta mudah rusak. Oleh karena itu harus dikelola secara tepat supaya dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan karena Cagar Budaya yang bersifat kebendaan (tangible) mengandung informasi (intangible) serta nilai-nilai yang penting untuk memahami masa lalu yang pengaruhnya masih dirasakan hingga sekarang dalam kehidupan sehari-hari. Pemikiran ini menempatkan Cagar Budaya sebagai unsur penting dalam proses pembentukan kebudayaan bangsa dan identitas nasional di masa yang akan datang. Sebagai sumber yang rentan terhadap perubahan lingkungan karena usianya yang tua, Cagar Budaya perlu dijaga keberadaannya supaya tidak rusak, hancur, atau musnah. Diharapkan dengan mempertahankannya generasi mendatang mempunyai kesempatan untuk memberikan apreasi atas tahap-tahap kemajuan budaya yang pernah dicapai oleh pendahulu mereka.

Sumber: 
Disparbud Babar- Undang- undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya
Penulis: 
SAP
Fotografer: 
Disparbudbabar2020
Editor: 
Nov@
Bidang Informasi: 
Humas