“Penganan Pelite” Kue Rakyat Kegemaran Tokoh Bangsa

     Kota Muntok, sebagai salah satu kota tua dengan sejarah panjang akulturasi budaya pada masyarakatnya memiliki kekayaan kuliner berupa keragaman kue nya. Pada tahun 2010, dalam peringatan hari ulang tahun Kota Muntok yang ke 276, Kota Muntok memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia sebagai kota dengan jumlah jenis kue terbanyak. Tercatat setidaknya 217 jenis kue yang terdaftar dalam acara tersebut. Dijuluki sebagai Kota Seribu Kue, jika berkunjung ke Muntok kita dapat melihat hamparan kue dari seberang Masjid Jami’ dan Kelenteng Kong Fuk Miau, terdapat sebuah gerai kue khas Muntok yang dipadati aneka jajanan kue tradisional. Diantara ratusan kue-kue tersebut, Penganan Pelite adalah salah satu jenis kue yang tercatat dalam kuliner kue khas Kota Muntok yang telah diakui oleh MURI.

      Penganan Pelite merupakan kue yang mirip dengan berbagai jenis talam yang ada di Indonesia. Kue ini berwarna putih susu dengan tekstur yang sangat lembut. Kue ini memiliki rasa yang manis dan gurih ditambah dengan aroma pandan wangi. Penganan sejenis ini mirip penganan jojorong khas Banten atau kue tetu khas Sulawesi Tengah. Bedanya pada isian. Penganan Pelite diisi gula pasir, sedangkan jojorong diiisi gula merah dan takir jojorong dibuat dari daun pisang. Penganan Pelite lebih mirip dengan kue tetu yang juga diisi gula merah dengan wadah daun pandan. Kalau di daerah Jawa Tengah mirip dengan penganan bubur sumsum.

       Kota Muntok tak hanya memiliki cerita sejarah perjalanan bangsa, namun Penganan Pelite yang merupakan salah satu kue yang populer pada masyarakat kota Muntok juga memiliki  keterkaitan sejarah pada saat pengasingan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, dan beberapa tokoh perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Muntok pada tahun 1949. Berdasarkan catatan sejarah, Presiden Soekarno bersama para beberapa pejuang kemerdekaan lain yaitu Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, dan Mohammad Roem pernah diasingkan di Pulau Bangka tepatnya di Muntok, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 1948-1949. Soekarno pernah hampir seminggu lamanya berada di rumah pengasingan Wisma Menumbing yang berada di puncak bukit. Kemudian, ia pindah ke Wisma Ranggam yang berada di kaki bukit. Meski di tengah pergolakan politik Indonesia, Soekarno ternyata gemar bersosialisasi dengan masyarakat Muntok, dan dulunya Bung Karno suka makan Penganan Pelite. Penganan pelite biasanya disajikan ketika Soekarno menggelar rapat-rapat penting bersama tokoh bangsa lainnya.

      Menurut penuturan masyarakat di Kota Muntok, Penganan Pelite merupakan kue yang paling digemari oleh presiden Soekarno. Dulunya keluarga dari  salah seorang informan dalam penelitian ini yang tinggal di Desa Belo Laut Kecamatan Muntok, seringkali mengantarkan kue-kue tradisional kepada Soekarno sebagai Presiden pertama Indonesia selama masa pengasingannya. Dari semua kue yang sering dibawakan untuknya, Penganan Pelite adalah kue favorit beliau.

      Proses pembuatan Penganan Pelite ini sangat sederhana, dimana dasar yang digunakan untuk membuat kue tradisional ini hanya terdiri dari santan kelapa, tepung beras, gula pasir, telur, garam dan takir dari daun pandan yang dibentuk persegi empat.  Takir  itu sendiri  adalah sebuah daun,  baik itu daun pandan, bisa juga daun pisang yang dilipat sehingga berbentuk kotak sebagai wadah makanan. Selain berfungsi sebagai wadah, takir ternyata memiliki makna filosofi. Makna dari takir itu adalah gabungan dari kata takwa dan zikir. Dimana dua hal tersebut yaitu taqwa dan zikir adalah wadah amalan-amalan kita sebagai makhluk Tuhan. Takir juga melambangkan banyak hal, yakni kesederhanaan, kreativitas yang canggih, produk lokal masa lalu yang tak lekang oleh zaman, juga kemandirian masyarakat masa lalu sebelum mengenal sendok dan piring yang merupakan budaya Eropa. Dan juga sebagai wadah nostalgia dalam melambangkan kedekatan manusia dengan alam.

      Proses pembuatan Penganan Pelite ini cukup sederhana, yaitu dimulai dengan membuat takir dari daun pandan. Daun pandan yang telah dibersihkan, dipotong dengan panjang ±6 cm. Kedua ujung daun pandan ditekuk dan dilipat ke atas sehingga membentuk sampan, kemudian sematkan lidi pada lipatannya untuk mempertahankan bentuk takir. Sesuai dengan bentuk takir, masyarakat di Kota Muntok biasanya menyebut Penganan Pelite ini dengan nama Kue Sampan dikarenakan bentuknya yang mirip dengan sampan/perahu nelayan.

      Setelah selesai membuat takir, siapkan kukusan untuk mengukus kue. Sementara menunggu air kukusan mendidih, sendokkan gula pasir ke dalam takir. Campur santan, tepung beras, telur, dan garam menjadi satu, adonan kemudian dituangkan ke dalam takir yang telah diberi gula, lalu kukus hingga matang. Rasa manis dan wangi semerbak aroma daun pandan adalah ciri khas nikmatnya Penganan Pelite ini.

      Dilihat dari penggunaan bahan dan cara pengolahan yang sederhana, Penganan Pelite mencerminkan kehidupan Presiden Soekarno yang jauh dari kemewahan, seorang tokoh bangsa yang dekat dengan rakyatnya. Dalam kegiatan wisata kebangsaan yang rutin diadakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat, kue ini disajikan sebagai bentuk napak tilas keseharian Presiden Soekarno saat beliau diasingkan di Muntok.

       Eksistensi Penganan Pelite masih sangat terjaga dalam masyarakat di Kota Muntok. Cerita dan sejarah yang ada di balik Penganan Pelite mengingatkan masyarakat terhadap sosok presiden pertama Republik Indonesia dan merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakatnya, makanan tradisional mereka digemari oleh tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam wawancara dengan informan Bapak Ir. Chairul Amri Rani, warga Desa Belo Laut Kecamatan Muntok, beliau menceritakan bahwasanya ibunya yang sering mengantarkan makanan untuk Soekarno dan beberapa tokoh lainnya yang ditahan di Wisma Ranggam yang ada di Muntok, Penganan Pelite adalah penganan yang sangat digemari oleh Soekearno

      Di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, Penganan Pelite adalah makanan khas yang selalu ada di antara jajanan kue-kue di Kota Muntok. Salah seorang pengrajin Penganan Pelite di Muntok adalah Ibu Sita, yang masih aktif membuatnya di momen spesial bulan yang penuh berkah ini. Ibu Sita menitipkan penganan khas ini ke penjual kue, dijajakan ke masyarakat sebagai salah satu menu berbuka puasa. Beliau masih mempertahankan cara lama dalam proses membuat makanan tradisional ini, sehingga kekhasan Penganan Pelite tidak pernah pudar. Penganan Pelite yang tidak pernah berubah, kue khas yang wangi, manis dan lezat. Dari dulu hingga saat ini.

Penulis: 
DD Siregar
Sumber: 
Disparbudbabar