Budaya 7 Likur Dalam Menyambut Malam Lailatul Qadar Bagi Masyarakat Desa Mancung Kecamatan Kelapa

      7 likur merupakan tradisi masyarakat Desa Mancung Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat, dimana budaya 7 likur dilaksanakan pada 27 hari umat Islam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, guna menyambut malam turunnya Al-Quran atau malam Lailatul Qodar yang bertepatan pada 27 Ramadhan. Kata Likur berasal dari bahasa Melayu, yang memiliki arti sebagai suatu kata untuk menyatakan bilangan antara 20 dan 30. Tradisi 7 likur ini sendiri adalah sebuah prosesi memasang lampu pelita dengan bahan bakar minyak, di pekarangan rumah tiap warga dan di sepanjang jalan. Dimulai pada malam ke 21, dipasang satu buah lampu pelita, yang disebut dengan malam selikur atau satu likur. Terus berlanjut hingga malam penghujung bulan Ramadhan, jumlah pelita ditambah sesuai dengan jumlah malamnya, hingga 7 malam ke depan yaitu malam 27 bulan Ramadhan. Namun sekarang ini, kebanyakan masyarakat memasang lampu likur tidak lagi menggunakan hitungan malam, melainkan langsung memasang sekaligus pelita dalam jumlah paling sedikit 7 hingga belasan, yang dipasang berjejer pada sebuah bambu. 

     Budaya 7 likur di Desa Mancung memiliki fungsi spiritual karena budaya ini mampu membangkitkan emosi keagamaan, khususnya bagi umat Islam, dimana bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia bagi umat Islam. Kemuliaan bulan Ramadhan salah satunya adalah dengan hadirya malam penuh keistimewaan dan keberkahan di salah satu malam pada malam-malam terakhir dan ganjil di bulan Ramadhan, yaitu malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1.000 bulan, malam yang sangat dinantikan bagi umat-Nya yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. 

    Bagi masyarakat Desa Mancung, tradisi 7 likur bukan hanya sebatas simbol budaya, namun memiliki arti yang luas, yaitu dalam rangka menyambut datangnya malam 1.000 bulan, malam Lailatul Qadar. Pada malam Lailatul Qadar masyarakat Desa Mancung bersama-sama menghidupkan malam-malam Qadar tersebut dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Dulunya sebelum ada listrik, masyarakat memasang lampu pelita di sepanjang jalan untuk menerangi langkah mereka menuju masjid atau surau untuk beribadah. Jadi pemasangan pelita atau likur dahulunya berfungsi sebagai alat penerang jalan karena belum ada listrik bagi masyarakat yang melaksanakan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tradisi budaya 7 likur ini masih dipegang erat kelestariannya sampai saat ini, karena selain untuk menyambut malam turunnya Al-Qur’an atau malam Lailatul Qadar, juga dapat mempersatukan masyarakat Desa Mancung dalam suatu hubungan sosial yang saling berkaitan. 

     Di Kabupaten Bangka Barat, tradisi 7 Likur ini hanya dimiliki dan dilaksanakan oleh Desa Mancung Kecamatan Kelapa. Hal inilah yang membuat desa ini berbeda dengan desa lain. Tradisi yang mempunyai ciri khas tersendiri ini menjadi perhatian pemerintah daerah untuk dikembangkan dan dipublikasikan kemasyarakat luas. Sejak tahun 2008 lalu, tradisi 7 likur di Desa Mancung sudah dimasukkan kedalam agenda wisata Kabupaten Bangka Barat, dengan diadakannya festival gapura api likur, dimana festival ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Mancung karena dapat bertemu lagi dengan bulan Ramadhan. Tradisi ini secara turun menurun dilestarikan dan menjadi wisata budaya religi. Kemeriahan tradisi 7 likur ini terlihat dari antusiasnya warga Desa Mancung yang kompak untuk mendirikan gerbang api likur. Enam RT di Desa Mancung masing-masing membuat gerbang dan mendesain rangkaian obor menjadi berbagai macam bentuk, seperti bangunan masjid, kereta kuda, tom and jerry, dua angsa, hello kitty dan orang yang sedang sholat. Hampir setiap gerbangnya menyuguhkan pemandangan obor yang menarik dan unik. Dan disetiap titiknya juga banyak masyarakat mengabadikan api likur yang terpasang di setiap gerbang. 

     Usaha untuk memperkenalkan budaya 7 likur ke tingkat yang lebih tinggi adalah sebuah cita-cita masyarakat Desa Mancung, mereka ingin budaya ini tidak hanya bisa dikenal dan dinikmati oleh segelintir masyarakat di wilayah Kabupaten Bangka Barat saja, tetapi harapannya agar budaya ini bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat dalam skala propinsi dan nasional. Adalah sebuah hal yang tidak mudah bagi mereka tanpa adanya kerjasama untuk mempromosikan wisata budaya ini ketingkat yang lebih tinggi. Mereka berharap kegiatan budaya ini bisa menambah pembendaharan budaya di Bangka Barat, sehingga di kemudian hari Bangka Barat bisa menjadi salah satu tujuan wisata orang-orang dari luar. 

Penulis: 
DD Siregar
Sumber: 
Disparbudbabar